“Gue udah bilang kan sama Lo, jangan berharap sama manusia, akhirnya bakalan kecewa,” ujar Nurul.

“Tapi gue udah terlanjur cinta sama Mas Haidar. Gimana dong?” tanya Eva.

“Coba Lo belajar untuk mencintai dulu pencipta-Nya, baru ciptaan-Nya,” jawab Nurul.

“Gue udah cinta kok sama Allah. Buktinya Gue udah sholat, ngaji, sedekah, sholawat juga. Tapi, doa gue enggak dikabulkan buat dapetin hatinya Mas Haidar,” ujar Eca sambil membuka matanya.

“Tapi bisa aja kan, Allah enggak kabulkan doa Lo, karena Allah itu cemburu. Di setiap detik, Lo selalu kepikiran sama Mas Haidar. Bahkan, Saat berdoa sekalipun, Lo selalu menyebutkan nama Mas Haidar,” ujar Nurul.

“Apa bener ya, Allah cemburu? Tapi kan, gue masih suka bolong sholat nya, kadang juga masih sering buka hijab gue,” ujar Eca pelan.

“Eca, di saat Lo mau berhijrah ke jalan Allah Lo pasti diuji. Seperti sekarang, ujian Lo adalah rasa cinta. Allah menguji Lo dengan di datangkan cinta sama Mas Haidar. Allah pengen tau, siapa yang Lo pilih, pencipta nya atau ciptaannya,” jelas Nurul.

“Gue tau sekarang mau ngapain. Makasih ya Nurul,” ujar Eva tersenyum bahagia.

Baca Juga  Sagara

***

Tiga bulan kemudian, Eca sudah berhasil untuk move on dari Haidar. Bahkan, sudah empat bulan mereka tidak bertemu. Kabarnya, Haidar pindah ke Aceh untuk mengurus perusahaannya.

Eca kini sudah berubah. Jika dulunya, ia masih sering tidak menggunakan hijab, kini ia selalu memakainya kemana-mana. Sholat pun, tak pernah ia tinggal kan kecuali sedang halangan. Kini di pikirannya, hanya bagaimana cara agar ia selalu istiqamah di jalan Allah, bukan lagi tentang cinta.

“Eca, kamu jadi MC ya di pengajian besok,” ujar Sonia, tetangganya.

“Aduh, jangan aku mbak. Aku masih takut salah, biar mbak aja ya. Atau Nurul aja,” tolak Eca secara halus.

“Udah kamu aja, itung-itung belajar juga,” ujar Nurul.

“Ya udah deh mbak, Aku aja. Tapi nanti ajarin ya mbak,” kata Eca.

“Iya, tenang aja,”

***

“Alhamdulillah, kajian hari ini berjalan dengan lancar. Makasih ya Ca, udah bantuin,” ucap Sonia.

“Iya, sama-sama. Aku juga makasih tadi udah dibantuin,” jawab Eca.

“Eca, kamu disuruh pulang sama ibu kamu. Ada tamu katanya,” ujar Kania, tetangga Eca.

Baca Juga  Last Sunset

“Makasih ya udah ngasih tau. Aku pamit ya. Nurul, anterin aku pulang yuk,” ajak Eca dibalas anggukan kepala dari Nurul.

Setelah beberapa menit kemudian, Mereka berdua telah sampai di rumah Eca. Terlihat rumah Eca sudah ramai. Eca pun segera masuk rumah lewat dari pintu belakang.

“Eca, kamu keluar dulu nak. Ada yang mau dibicarakan,” ujar Ibu Eca, ia menghampiri di dalam kamar nya.

“Siapa sih Bu?” tanya Eca penasaran.

“Udah nanti kamu juga tau. Yuk keluar dulu,” jawab ibunya yang membuat Eca semakin penasaran.

Ketika Eca keluar dari kamar dan menuju ruang tamu, betapa terkejutnya Eca melihat orang yang dulu disukainya ada di sana duduk di dekat ibu dan ayahnya.

“Nah ini anaknya udah datang,” ujar ayah Eca. “Sini, kamu duduk dekat ayah,” lanjutnya.

“Baiklah, langsung saja. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Bismillahirrahmanirrahim, Kedatangan kami di sini sekeluarga bermaksud untuk menyambung tali silaturahmi lebih dekat dengan keluarga Pak Bashori. Anak saya, Haidar bermaksud untuk melamar putri Bapak bernama Marcha Ayudia,” ujar ayah Haidar membuat Eca terkejut bukan main.

Baca Juga  Dorong Masyarakat Taat Pajak, Pemkab Bangka Tengah Teken Kerja sama dengan BNI

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Masya Allah, kami menerima maksud baik dari keluarga Haidar. Tapi, Jawaban nya kami pasrahkan kepada yang bersangkutan. Eca, bagaimana nak?” tanya Ayah Eca.

Eca memejamkan matanya, kemudian membukanya secara perlahan. Ia sudah memantapkan hati akan pilihannya. Sekarang ia tau, apa tujuan Nurul menyuruhnya untuk terus meluruskan niatnya akan beribadah, menyuruhnya hijrah di jalan Allah SWT. Eca kini sadar, niatnya salah waktu itu. Ia hanya mencintai Allah karena Haidar.

Tapi, Nurul membantunya untuk keluar dari zona tersebut. Kini, ia benar-benar telah berhijrah karena Allah. Apa yang terjadi? Allah datangkan seseorang yang dulu ia cintai padahal ia telah melupakannya.

“Bismillahirrahmanirrahim. Saya menerima lamaran dari Mas Haidar,” ucap Eca masih dengan menundukkan kepalanya.

“Alhamdulillah,” terdengar helaan nafas lega dari mereka semua yang ada di ruang tamu rumah Eca.

Tanpa sadar, Eca meneteskan air matanya. Ia sangat terharu, benar apa kata Nurul sahabatnya. Dekati dulu pencipta-Nya, baru ia kan mendapatkan ciptaan-Nya. “Terima kasih Allah, sudah mengabulkan doaku untuk mendapatkannya,” ujar Eva dalam hatinya.

Tamat.