Bunga Perpisahan
Karya: Sheila Fiorencia Caroline
Masih segar dalam pikiran Lucas kejadian pada malam itu. Malam mengerikan yang meninggalkan luka besar menganga di hatinya.
Malam berdarah ditemani teriakan, erangan, dan tangisan memilukan di mana-mana.
Malam dunia yang seharusnya sunyi dan damai, dalam satu kedipan mata berubah menjadi neraka. Malam yang mengubah hidup Lucas selamanya.
Saat pertama yang merusak jiwa dan raganya adalah saat satu tembakan besar yang menggemuruh terdengar.
Dua orang tentara menahan tubuhnya ke lantai, jadi tak ada yang bisa dia lakukan saat peluru panas itu menembus jantung Julia, adik perempuan kecilnya.
Suara teriakan melengking yang sebelumnya terdengar mendadak hilang hanya dalam satu tembakan keji.
Tubuh kecilnya lemas dalam bekapan seorang tentara yang sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati seolah tak lagi memiliki hati.
Lucas yang bisa melihat dengan perasaan hancur.
Tak peduli sekuat apapun dia meronta, meraung, dan melawan, dia tidak akan bisa bangkit dari gencetan dua tentara yang terus membentak seluruh keluarganya untuk diam.
Tubuhnya bergetar hebat sesaat melihat pemandangan mengerikan itu.
Suara tangisan ibunya mengikuti setelahnya. Itulah hal terakhir yang diingatnya pada malam itu sebelum kegelapan menyelimutinya.
Dalam kegelapan yang menyelimuti, api amarah membara di hatinya, kekecewaan dan rasa bersalah mulai bersarang di hatinya.
Hatinya yang malang kini telah menjadi rapuh seolah terbuat dari kaca.
Nasi telah menjadi bubur. Lucas hanya bisa menikmati hari-harinya dengan depresi yang menyerangnya.
Namun, suatu hari, ia memutuskan untuk melangkah lebih jauh.
Lucas sadar dengan berdiam diri saja sembari menyalahkan dirinya sendiri tidak akan menghasilkan apapun.
Untuk itulah, dengan tekadnya yang bulat, dia membuat surat permohonan bergabung ke dalam kemiliteran bersama Blok Sekutu.
Lucas ingat orang-orang yang menyusup masuk ke kediamannya.
Wajah khas orang asia dengan seringai mengerikan yang terukir di wajah mereka. Pasukan militer Jepang dari Blok Poros.
Dalam kurun waktu seminggu, secarik surat balasan diterima secara diam-diam lewat seorang teman yang juga membantunya memberikan surat Lucas kepada pihak militer.
Air mata bercucuran, jatuh membasahi surat balasan yang berisikan penerimaan Lucas masuk ke dalam pelatihan pasukan militer mereka.
Lucas meremas kertas itu kuat dengan tekad yang membara di hatinya.
Sebentar lagi dia akan membalaskan kematian adik perempuan satu-satunya.
Balas dendam bukanlah jawaban atas segala masalah, namun Lucas memiliki pandangan lain mengenai itu.
Setidaknya orang-orang itu merasakan penderitaan mereka pada saat itu, setidaknya Julia akan tenang setelahnya, setidaknya dia bisa berpartisipasi dalam menghentikan kekejaman Perang Dunia II walaupun sedikit saja.
Tindakannya salah jika hanya memikirkan balas dendam, namun Lucas tidak berpikir akan menyesalinya. Lagipula itu bukan masalah utama dalam pikirannya.
Lucas memiliki kedua orang tua dan seorang gadis yang menunggu pinangan dirinya. Bagi Ibunya, seperti mengantarkan putranya menuju Sang Ilahi.
Sementara bagi Ayahnya, luka lamanya dibuka kembali. Sedangkan bagi kekasihnya, belahan jiwanya besar kemungkinan meninggalkannya.
Saat dia duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya di ruang keluarga, Lucas merasakan tatapan dingin keduanya terhadapnya, “Jadi ya, ada yang ingin kubicarakan.”
“Luke, aku tahu kau pria dewasa dan aku yakin kau tidak akan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Jadi, katakanlah,” ujar Ibunya berusaha setenang mungkin.
Sang Ayah masih diam dingin seolah tahu apa yang ingin dibicarakannya dan dia tidak senang akan itu, Lucas memutuskan terus melanjutkan, “Aku akan bergabung ke dalam militer. Aku ingin bergabung dalam perang.”
Helaan napas panjang nan berat kedua terdengar.
Ibunya nampak sedih dan kecewa, dan Ayahnya tidak lebih baik. Ayahnya lebih dari sekadar kecewa.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.