Hutan Angker (1)
Karya: Renata Putri, Siswi SMAN 3 Toboali
“Lo kenapa sih, Cle, tegang banget?” tanya Dhirey sambil melihat wajah Cleo.
“Gw lagi mikirin itu, sebentar lagi kita akan melewati jalan Bantara, kalian tahu kan?” jawab Cleo.
“Katanya sih, kalau lewat jalan itu kita harus bunyiin klakson. Tapi kalian percaya gak?” tanya Dhirey memotong pembicaraan sembari mengemudikan kendaraan.
“Hari gini masih ada yang begituan, itu mah mitos. Kalo gw sih gak percaya,” cibir Keyla.
“Sama, gw juga gak percaya sih!” Sambung Dhirey lagi, ia masih fokus mengemudi.
“Heh, gak boleh gitu! Meskipun kalian gak percaya … kita harus melakukan apa yang sudah menjadi aturannya, kita ‘kan ga tahu nanti kalo ada kejadian yang tidak diinginkan jika tidak mengikuti aturannya,” tegur Cleo.
“Sudahlah jangan dibesarkan, nanti kita yang bertengkar, tapi gw penasaran sih … memangnya kenapa kalau kita tidak membunyikan klakson?” Lerai Keyla diakhiri dengan pertanyaan.
“Gw juga ga tau pasti sih, tapi menurut berita yang gw dengar, kita nggak menemukan jalan pulang, dan ada juga yang pulang tapi hanya raganya doang, jiwanya dikunci oleh penghuni jalan Bantara itu,” tutur Cleo menjelaskan kepada dua sahabatnya itu menurut berita yang didengarnya.
“Sudahlah jangan diambil serius. Mungkin saja hanya dibuat-buat seram seperti itu … supaya orang-orang yang lewat meramaikan jalan itu saja,” ucap Keyla yang dibenarkan oleh Dhirey.
“Sebentar lagi kita akan melewati jalan Bantara selesai tikungan di depan, terus gimana gw klakson ga?” tanya Dhirey kepada Cleo dan Keyla, karena dia juga sedikit ragu karena penjelasan Cleo tadi.
“Terserah lo, klakson aja rey!” perintah Keyla dan Cleo bersamaan.
Sementara Dhirey berpikir itu hanyalah mitos kenapa harus percaya. Batinnya Cleo terus membaca do’a agar dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.
***
Pagi yang cerah ini ketiga sahabat itu yang tak lain adalah Cleo, Dhirey, dan Keyla berencana pergi ke desa Seleur yang jauh dari tempat tinggal mereka.
Desa Seleur merupakan desa Ibu Rahma –salah satu dosen kesayangan mereka.– Menurut info dari guru lain, dosen tersebut tidak masuk kampus dikarenakan melahirkan anak pertamanya di desa kelahirannya –tepat di rumah orang tuanya Ibu Rahma.
Ketiga sahabat itu memang sengaja tidak memberi tahu dosen tersebut kalau mereka mau berkunjung, dikarenakan ingin memberikan suprise kepada dosen kesayangan mereka. Namun siapa sangka, ternyata mereka harus melewati jalan Bantara yang terkenal sepi dan angker itu.
Jalan tersebut terletak di tengah hutan yang kanan kirinya hanya terdapat pepohonan yang besar dan rindang sehingga suasana terlihat gelap –dikarenakan cahaya matahari sulit untuk masuk ke dalam hutan tersebut.
Kini ketiga sahabat itu sudah melewati tikungan yang artinya mereka sudah dekat dengan hutan Bantara itu.
Cleo sangat tegang karena sudah memasuki hutan Bantara, tetapi Dhirey belum juga membunyikan klakson mobil yang dikendarainya.
“Rey, bunyiin klaksonnya!” perintah Cleo.
“Gak usah, lebay deh, Cle,” tolak Keyla.
Cleo tidak mempedulikan teman-temannya, dia hendak membunyikan klaksonnya tetapi tangannya ditahan oleh Keyla.
“Lo apa apaan sih, nanti Dhirey tidak Fokus menyetir mobilnya kalau kamu ganggu!” ketus Keyla yang tangannya masih setia memegang tangan Cleo.
“Lo yang apa-apaan, kalau kalian gak percaya ya sudah, gw ga mau ambil resiko kalau terjadi apa-apa ngerti gak, lagian apa susahnya sih cuma menekan klakson doang!” Berondong Cleo dengan tegas.
“Bruuuk!”
Tiba-tiba mobil mereka menabrak sesuatu.
“Apaan tuh, Rey?” tanya Keyla kepada Dhirey.
“Nggak tahu,” jawab Dhirey kebingungan.
“Emang tadi ada orang lewat?” tanya Keyla lagi, yang dibalas dengan gelengan kepala Dhirey.
“Terus apa, dong?” tanya Keyla.
“Ya, ga tau lah, ayo kita turun untuk melihat apa itu!” ajak Dhirey.
“Ogah, gw! Kalian berdua aja, bisa saja itu ulah kalian karena ga mengikuti aturan di jalan ini,” tolak Cleo. Ia mulai gelisah.
“Kenapa cuma kita berdua, apa karena gak membunyikan klakson? Aneh lo, Cle!” ujar Keyla.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.