Hutan Angker (1)
“Terserah kalian, kalau terjadi apa-apa gw ga tanggung jawab!” balas Cleo.
“Ya, sudah, ayo kita lihat, Key!” ajak Dhirey kepada Keyla.
Dhirey dan Keyla pun turun dan tidak melihat apapun yang sekiranya telah ditabrak oleh mereka.
“Kok, ga ada apa-apa Rey?” heran Keyla.
“Tapi tadi kerasa banget ada yang kena tabrak,” balas Dhirey.
“Jangan-jangan, apa yang dikatakan Cleo benar,” ujar Keyla sambil melihat-lihat ke sekelilingnya.
Seketika mata Keyla melotot disertai dengan wajahnya yang pucat begitu melihat sosok baju putih yang lusuh dengan rambut yang tergerai duduk di atas sedang menatap tajam dengan bola mata yang merah dan tersenyum ngeri ke arah mereka.
“Kun … Kun ….” Keyla mendadak gagap dan langsung masuk ke dalam mobil.
Dhirey melihat ke arah pandang Keyla tadi dan melihat sosok yang sama dengan yang dilihat Keyla, seketika kakinya menjadi lemah tapi dia berusaha masuk ke dalam mobil secepatnya. Cleo yang melihat wajah kedua sahabatnya yang pucat merasa heran.
” Kalian kenapa?” tanya Cleo yang tidak dijawab oleh kedua sahabatnya.
“Rey cepat nyalain mobilnya!” perintah Keyla dengan tergesa-gesa.
“Nggak bisa dihidupin, Key!” jawab Dhirey.
“Haduh, gimana nih?” tanya Keyla yang sedang ketakutan.
Hihihihi.
Tawa nyaring sosok makhluk yang dilihat oleh Keyla dan Dhirey tadi. Sosok itu melayang layang di depan mobil mereka, Cleo yang melihat sosok makhluk tersebut terkejut, ini alasan kenapa teman-temanya ketakutan.
Tiba-tiba angin berembus kencang membuat mobil mereka bergerak ke kiri dan ke kanan, lama kelamaan mobil mereka melayang dan berputar seperti di tengah angin tornado. Ketiga gadis itu terlempar jauh keluar mobil dengan arah yang berbeda-beda.
Seketika suara menjadi hening.
Cleo memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing, mungkin akibat terbentur pohon. Cleo berjalan menuju ke jalan besar, setelah sampai dia mencari kedua sahabatnya. Tidak jauh dari tempat dia berdiri dia melihat Keyla yang terbaring di tanah.
“Key bangun, Key!” panggip Cleo. Tetapi Keyla tidak bangun juga.
Dengan susah payah Cleo memapah tubuh Keyla, hampir-hampir menyeretnya, dan kemudian meletakkannya di mobil. Lalu dia bergerak mencari Dhirey.
Ternyata Dhirey dekat dengan mobil mereka hanya dihalangi oleh pohon besar saja, lalu lagi-lagi Cleo menyeret-nyeret tubuh sahabatnya ke dalam mobil.
Lalu dia mengendarai mobil dan berbalik arah, dengan tak lupa membunyikan klaksonnya keluar dari hutan Bantara, membawa tubuh kedua sahabatnya tetapi tidak dengan jiwanya karena Cleo tahu bahwa sekarang jiwa kedua temannya itu masih di dalam hutan. Tanpa ia sadari kedua sahabatnya berlari mengejarnya.
“Cleo, jangan tinggalin kita!” teriak kedua sahabatnya, lebih tepatnya ruh mereka.
“Cetaaas!”
Terdengar bunyi suara cambuk, kedua gadis itu berbalik dan melihat sosok yang mereka lihat sebelum kejadian tadi.
“Hi hi hi hi!”
“Mulai sekarang kalian berdua menjadi budakku … budakku!” seru si sosok kuntilanak.
Kemudian ia mengibas cambuknya lalu mengikat tangan kedua sahabat Cleo itu. Ah, andai mereka menuruti keinginan Cleo untuk membunyikan klakson, maka tidak ada kejadian seperti ini. Tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur.
Sementara diperjalanan pulang, Cleo fokus menyetir, lalu berkata, “Gw akan kembali untuk nyelamatin kalian!” gumam Cleo sambil mengusap air matanya.
Tiba-tiba sesuatu nempel di kaca depan mobil.
“Argh, pergi!” usir Cleo saat melihat sosok kakek tua yang berada di depan kacanya. Kakek tua itu memperlihatkan giginya yang rusak lalu mata kakek tua itu menyemburkan darah menutupi kaca depan, lalu Cleo memencet tombol untuk membersihkan darah itu, tetapi darah itu tak bisa hilang, sehingga Cleo tidak bisa melihat jalan di depannya tetapi dia tetap melanjutkan perjalanan nya. Sampai akhirnya ….
“Braaak!”
Cleo menabrak pohon besar, kepalanya terbentur, kemudian Cleo kehilangan kesadarannya.
Bersambung

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.