Bunga Perpisahan
Lucas tidak bisa menyalahkannya, mengingat Ayahnya adalah bekas pasukan militer Perang Dunia I.
Ayah memberi pandangan kebencian yang sangat tajam, menceloskan hatiku yang sedari coba kuteguhkan, jarinya menunjuk ke arahku, “20 tahun yang lalu aku bersumpah untuk tidak lagi diperbudak negara demi nyawa yang bisa kuselamatkan. Sekarang… putra sulungku sendiri meneruskan perang kematian itu,” ujarnya dengan suara yang tercekat dan mata berkaca-kaca.
Usai mengatakan hal tersebut, sang Ayah pergi begitu saja dengan sekotak tembakau di tangannya.
Sang Ibu juga tidak lebih baik, dia menutup mulutnya seraya menangis tersedu-sedu. Lucas hendak menyentuh Ibunya, namun dibalas tepisan kasar darinya.
“Pergi ke kamarmu, Luke. Jangan menemuiku sampai kau berubah pikiran,” ujar Sang Ibu pelan tapi tegas.
Lucas hanya mampu berjalan gontai ke kamarnya sembari meremas jari-jarinya sendiri.
Malam terakhir sebelum bus militer menjemputnya, Lucas menulis dua pucuk surat untuk kedua orang tuanya dan kekasihnya.
Dari luar jendela kamarnya, seorang teman berdiri tanpa bicara sepatah katapun.
Bukan surat berisikan bahwa ia telah berubah pikiran, melainkan sebuah pembangkangan.
Apapun yang terjadi, Lucas akan tetap mengikuti pelatihan militer tersebut. Dia menjanjikan banyak hal kepada orang-orang yang disayanginya.
“Kalian tidak akan kehilangan aku. Aku tidak akan berjalan ke arah yang salah. Aku tidak bisa berjanji akan menyelamatkan semua orang, tapi setidaknya aku bisa menyelamatkan beberapa. Maafkan aku yang keras kepala. Kalian bisa menamparkan jika aku kembali dari perang.” Begitu inti dari surat tersebut.
Untuk Sang Kekasih yang menunggunya cemas, Lucas hanya bisa mengungkapkan betapa besar dia mencintainya. Menjelaskan semua alasannya mengambil keputusan besar ini.
Berharap setidaknya gadis yang telah hidup di hatinya sekarang bisa memaafkannya dan sedikit banyak mengerti keputusannya. Menjanjikan pernikahan jika ia bisa kembali.
Dengan hati yang teramat pilu, Lucas menyerahkan surat untuk kekasihnya kepada temannya yang menunggu dari balik jendela, “Pastikan dia menerimanya, temanku. Jangan sampai dia tahu kau yang membawa surat itu.”
Dengan anggukan ragu-ragu temannya berkata, “Kau bisa mengandalkanku.”
Setelah memastikan surat untuk kedua orang tuanya masuk melalui celah bagian bawah pintu kamar mereka, Lucas pun tidur bersama mimpi buruk malam itu.
*****
Hal pertama yang ia lihat pada pagi harinya adalah wajah Ibunya yang duduk di sisi ranjangnya.
Wajahnya datar tanpa ekspresi, membuat Lucas tidak bisa menebak apa yang Ibunya rasakan kini. Apa mereka sudah membaca suratnya?
Sang Ibu menggenggam erat tangan Lucas dan berkata, “Luke, kau pria dewasa dan aku yakin kau tidak akan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Lakukanlah apa yang menurutmu benar.”
Dengan diucapnya kalimat itu, izin pun diberikan. Pelukan pun Lucas dapatkan dari Sang Ibu seketika menenangkan sanubarinya.
“Bergegaslah, mereka sudah menunggumu dan mereka tidak suka menunggu,” ujar Ibunya.
Benar katanya, dari luar nampak bus militer terparkir di depan rumahnya.
Mengambil tasnya dan memakai jaket kamuflase-nya, Lucas berjalan keluar dari kamar keluar rumah.
Sempat Lucas melewati kamar dan melihat Ayahnya yang sedang duduk di atas tempat tidur, menghadap ke arah jendela dengan kepala agak tertunduk, membelakangi pintu kamar di mana Lucas berdiri.
“Tenang saja, Ayahmu mengizinkan. Kau ingin Ibu memanggilnya?”
Dengan senyum tipis Lucas berkata, “Tidak, tidak perlu. Aku mengerti….”
Dengan itu, Lucas berjalan keluar untuk kemudian memasuki bus militer.
Sesaat dia melihat Ibunya yang menitihkan air matanya dalam diam dan sesekali menyeka air mata itu dengan tisu.
Sepanjang perjalanan, Lucas memutuskan memandangi pemandangan terakhir kampung halamannya. Hujan turun bersamaan dengan kepergiannya.
Dari jauh, seorang gadis muda dengan payung biru di tangannya dan sepucuk surat yang terlipat di tangannya yang lain, menitihkan air matanya.
Tak ada yang bisa ia lakukan selain memandang dari jauh kepergian orang yang ia cintai. Hanya bisa mengucapkan selamat tinggal dalam diam.
Tamat
Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat yang aktif menulis cerpen berencana membukukan karyanya pada tahun ini

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.