Karya: Nurul Janah Gustina

Demi menjebloskan walikota baru yang serakah itu. Kami para utusan dari pusat kembali melaksanakan tugas dengan taruhan nyawa.

Mengingat pendukung walikota tersebut bukanlah orang biasa. Kekuatannya hampir sebanding dengan istana pusat. Jikapun bertarung secara langsung, istana pusat akan menang, tapi kerusakan dan kerugian yang ditanggung tidak sebanding dengan hasil yang diinginkan.

Lagi pula, angkat senjata tidak lebih efektif dari perang informasi.

Rumah lama itu masih berdiri tegak. Menunjukkan kemegahan sekaligus kesederhanaan. Bagi kami para utusan, rumah itu penuh dengan rahasia dan peluang, serta bahaya tentunya.

Aku melihat sisi kiri dan kanan rumah yang memiliki taman kecil nan indah itu. Pohon keturunan Magnolia dan Tabebuya murni berdiri indah di sana. Bahkan paving blok dibawahnya sudah hampir tak terlihat karena tertutupi oleh kelopak Magnolia dan tabebuya murni itu.

Entah berapa sekarang harganya, yang pasti itu sangat amat mahal, mengingat tumbuhan zaman sekarang yang kebanyakan tidak memiliki kemurniannya lagi. Banyak yang diubah genetiknya, dicampur dengan genetik hewan atau tumbuhan lain. Sangat jarang melihat tumbuhan dengan genetik murni. Genetik asalnya.

Utusan 3 memberi kode, kami berpencar di dalam rumah itu. Menyuruh kami selalu melihat Bracelet-e (gelang identitas berteknologi canggih).

Baca Juga  Aku Juga Punya Luka

Semua informasi ada di sana. Termasuk lokasi, keadaan, dan peta ruangan yang kami tempati sekarang. Utusan 3 memulai dengan mengambil ruang tengah, aku memutuskan melihat ruangan sayap kanan, dan utusan lainnya berpencar.

Meniti setiap inci rumah, perabotan, dan semua yang ada di sana. Kalau-kalau ada yang penting dan bisa digunakan. Terutama, kertas.

Benda yang telah ratusan tahun tidak diproduksi lagi di bumi. Telah digantikan dengan proyeksi digital yang tak Mudah rusak atau hilang.

Kami sebenarnya tak percaya bahwa kemungkinan besar berkas bukti korupsi dan kolusi walikota itu ada dalam secarik kertas. Kami lebih berpikir bahwa di dalam Bracelet-e lebih aman, terkunci dengan berlapis lapis kode.

Bahkan sidik jadi. Tapi, menilik bentuk rumah ini yang masih sama dengan bentuk rumah ratusan lalu (yang wajar saja jika  ini ada di kawasan cagar budaya Urasla), tak mustahil jika kami menemukan setumpuk kertas dokumen lama.

Aku mengetuk dinding. Mencari ruang kosong yang mungkin tersembunyi. Denah rumah yang kami dapat terlalu sederhana, tak mungkin-

Teng

Yup. Dapat. Aku memberi kode kepada rekan terdekat—utusan 2—yang tengah memeriksa guci tua, kami fokus menemukan tuas atau celah yang menjadi kunci untuk membuka ruangan rahasia.

Baca Juga  Balasan Terapik

Tak lama. Namun nihil, kami tidak menemukan apapun. dinding itu sangat kosong permukaannya. Bahkan lantainya sama rata. Kami mengetuk pelan sekitaran dinding, menyangka ada ketukan atau irama khusus sebagai pembuka pintu.

Keringat telah mengalir di dahi kami. Aku kembali memutar otak, melihat sekeliling, guci-guci tua, lukisan lama yang sudah di bolak balik, patung Buddha yang menoleh ke kiri.

Tunggu.

Menoleh ke kiri?

Aku menemukan kejanggalan dengan lukisan tua dan patung Buddha di dinding seberang. Sempat terlewat karena kami fokus pada 1 dinding.

Buddha itu menoleh ke arah kiri tepat lurus pada lampu pojok. Dahulu lampu seperti itu untuk sekedar mempercantik ruangan, atau bisa digunakan sebagai lampu tidur. Dan kalau tidak salah…

Tuk

Aku menarik sakelar lampu yang menggantung.

Lengang. Tak terjadi apapun, hanya saja ruangan telah terang sebagian karenanya. Utusan 2 yang telah mengangkat alisnya dan membuka matanya lebar kembali mendatarkan wajahnya. Merasa ditipu. Senyumku membeku, tak sesuai dugaan.

Apa yang salah?

Kembali kulihat patung Buddha. Memikirkan beberapa kemungkinan, aku memegangnya. Melihat bagian bawah patung. Juga tidak ada tombol.

Baca Juga  Engkau Pelitaku

Sekeliling tangannya juga tidak ada. Bajunya pun terbuat dari porselen, tak bisa di putar atau dibuka. Aku kembali meletakkannya ke kadaan semula.

Eh. Diputar?

Aku memutar kepalanya menjadi menghadap lurus ke arah tembok. Seketika tembok terdorong ke dalam, lalu menggeser ke samping. Roda gigi tua perlahan berputar kembali.

Utusan 2 yang masih mengetuk dinding terjungkal ke depan, terkejut bukan main. Aku hampir tertawa dibuatnya. Dia balas menatap sebal kepadaku. Aku tersenyum, meminta maaf.

Setelah mematikan lampu, kami memasuki ruang rahasia tersebut. Pintu rahasia tertutup kembali, sempat membuat panik sebelum akhirnya aku melihat ke depan.

Ternyata ada jendela! 3 jendela yang terbuat dari kayu jati lama yang kacanya masih jernih. Aneh sekali tidak melihat jendela ini ketika di luar. Jikapun terlihat, kami akan menebak bahwa ada ruangan dibalik dinding itu. Tidak perlu mengetuk dinding atau perabotan seperti orang kurang kerjaan.

Tapi, untuk bisa tidak terlihat dari luar, pastilah jendela ini dilapisi dengan teknologi canggih zaman sekarang. Karena tidak ada kejanggalan saat memindai bentuk rumah dengan gelombang suara bahkan dengan kepadatan udara.