Misi Istana Pusat: Penemuan Bukti
Perubahan suhu juga tidak ada. Dibalik kesederhanaan rumah ini ternyata disokong teknologi yang muarbiasa. Tapi, teknologi mana yang bisa menyamarkan dari pemindai canggih negara?
Di mana orang ini menemukannya? Mungkinkah ada belahan bumi lain yang masih belum kami ketahui yang memiliki teknologi lebih maju dari kami?
Hamparan pohon Magnolia putih dan ungu serta Tabebuya utih dan kuning terlihat jelas dari jendela. Menandakan kaca itu atau bahkan ruangan itu memiliki teknologi pembersih debu yang bekerja otomatis.
Tidak salah lagi. Untuk bisa memakai teknologi secanggih itu hanya untuk ruangan kecil tersembunyi. Pasti ruangan itu menyimpan hal-hal penting. Melindungi sesuatu di dalamnya agar tidak musnah atau rusak.
Tak lama kami mencari, kami menemukan tumpukan map tua yang terbuat dari plastik. Bahan yang dilarang diproduksi sejak 500 tahun lalu. Kami saling tatap. Utusan 2 mengangguk. Kami dengan cepat membuka satu per satu map plastik yang ternyata isinya benar-benar kertas kuno.
Ada potongan-potongan kecil struk pembayaran, struk pengiriman dan transfer bank, juga beberapa kertas perjanjian yang ditulis tangan dan berprangko lama. Benar-benar dokumen lama. Kami kembali bertatapan, saling mengangguk. Memasukkan semua map-map berisi kertas bukti itu ke dalam tas ruang kosong di pinggang.
Kembali mengeluarkan tumpukan map yang sama dan kembali meletakkan dengan sudut dan tempat yang sama. Menghilangkan bukti. Setidaknya bisa menunda sedikit waktu untuk orang tua itu menyadari bahwa itu bukan lagi map yang sama. Walupun isi dan segala karakteristik nya sama. Kami hanya menggunakan teknologi perubahan bentuk benda.
Masih bisa dibedakan jika kalian memiliki mata jeli yang sudah pasti dimiliki orang tua ratusan tahun itu.
Kami kembali melihat sekeliling. Kalau-kalau masih ada dokumen atau tempat ganjil tertentu. Kami memang hampir membalikan seluruh ruang, sih. Tapi semua kemungkinan bisa terjadi, kan?
Aku mengetuk salah satu fitur Bracelet-e. Sinyal pada utusan lain untuk melindungi sekitaran kami sementara kami mencari cara untuk keluar. Tidak lucu jika kami bisa masuk tapi tidak keluar.
Aku mencoba menghubungi utusan lain untuk kembali memutar patung Buddha itu. Tapi sayangnya ruangan itu memiliki lapisan yang merusak sinyal begitu aku mengirimkan sinyal pertama tadi. Sial.
Kami kembali mencari “kunci” untuk membuka pintu geser itu. Betapa terkejutnya ketika aku kembali melihat ke jendela dan di sana, secara perlahan-lahan terlihat siluet manusia mengendap endap.
Di balik pohon Magnolia tua di taman. Yang dengan jelas mengatakan posisi kami sedang berada dalam bahaya. Aku kembali mencoba mengirimkan sinyal. Utusan 2 semakin gencar mencari cara membuka pintu. Sial, jika begini. Kami hanya akan mati konyol.
Tak lama, terdengar pergerakan dari “pintu”. Dengan cepat kami bersembunyi di bawah tampat tidur. Jantungku berdetak kencang. Musuh terdeteksi 1. Sepatu anti gravitasi telah ku aktifkan.
Senjataku dalam mode siap tempur. Aku keluar, sambil mengacungkan senjata seraya berseluncur di lantai hingga menempel di dinding. Saling mengacungkan senjata.
“Eh, ini aku, sobat.”
Ternyata utusan 3. Dia menerima sinyal di detik terakhir sebelum ruangan itu mengaktifkan mode perlindungannya.
Aku dan Utusan 2 dengan cepat keluar. Utusan 4, 5, dan 6 telah berkumpul di ruang tengah dengan kondisi siap tempur. Maka artinya telah mustahil keluar dari rumah ini tanpa keributan.
Kembali kami mencari titik buta, titik paling kecil kemungkinannya bentrok langsung dengan penjaga bayangan di luar. Kami bagi tugas. Aku dan utusan 2 yang memancing pertempuran, sengaja tertinggal di belakang. Dan yang lainnya terbagi lagi jadi 2 kelompok, utusan 3 dan 4 ke kanan dan kiri, sisanya di depan.
Dengan cepat kami keluar lewat atap. Sesuai rencana, aku dan Utusan 2 di belakang. Kami telah mengaktifkan baju pelindung kami. Kecuali peluru dengan kecepatan lebih dari kecepatan cahaya, baju pelindung itu tak akan lecet walau sedikit.
Tak lama, kami telah terkepung. Aku dan Utusan 2 tersenyum, memberi sinyal dan segera tiarap.
Desing terdengar, 4 orang yang bingung kehilangan keberadaan kami tertembak mati di kepala. Kami sudah pergi menjauh dari kepungan mereka. Mereka yang di sana sudah pasti terbantai oleh utusan 3 dan 4 setelah ini. Kami tinggal menyusul utusan 5 dan 6 dan misi sele-
“Serahkan buktinya.”
Bagaimana bisa? Dia lolos dari tembakan sniper terbaik kami?
Sebentar, tidak! Dia bukan lolos. Tapi sejak tadi tidak bergabung dalam pengepungan kami. Sial! Menyusahkan sekali. Semakin lama kami mengulur waktu, semakin tak bagus hasilnya. Aku melesat ke samping, menembakkan 2 peluru sekaligus. Utusan 3 juga telah bergerak.
Tidak, kemampuan ornag ini tidak seharusnya bisa menghindari bidikan berpengalaman sniper kami. Terlalu sedikit orang yang bisa menghindari nya.
Mungkinkah sniper itu sudah dibekuk? Tidak mungkin, itu bukan sniper biasa Bagaimana mereka tahu posisi-
Sial.
Mungkinkah ada pengkhianat? Sejak kapan?
Jika bahkan dalam organisasi ini telah terjamah oleh tentakel kotor pria tua itu, mustahil eselon atas organisasi tidak tahu.
Gila sekali
Ini gawat sekali.
Nurul Janah Gustina, Siswi SMAN 1 Pemali Kabupaten Bangka

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.