Semanis Coklat
Karya: Khoiriah Apriza, Siswi SMAN 1 Airgegas Kabupaten Bangka Selatan
Bruk!
“Astaghfirullah, datang-datang malah ngajak berantem. Kenapa sih Lo?” tanya Vivi kepada sahabatnya yang wajahnya kusut bagaikan baju yang belum disetrika.
“Gue bete banget! Masa tugas gue ditolak sama Pak Agus! Gue udah capek-capek ngerjain, Malah dibilang copy dari google! Gimana gue enggak bete coba?!” ujar Fitri yang kesal sambil menutup wajahnya dengan tasnya.
“Sabar, orang sabar muka nya lebar,” ujar Vivi terkekeh.
“Ke Kafe yuk, temenin gue makan sama ngerjain tugas,” ajak Fitri sambil berdiri dari kursinya.
“Traktir, Gue lagi bokek. Enggak dapat uang kiriman dari Nyokap,” ujar Vivi sambil mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan isinya yang hanya ada uang dua puluh ribu rupiah.
“Gampang itu mah, Yuk Cabut,” ujar Fitri yang langsung keluar dari kelas menuju tempat parkir kemudian diikuti Vivi di belakangnya.
Di parkiran, Fitri segera memakai helm bogonya yang berwarna hitam. Dan segera menaiki motor Scoopy hitamnya. Setelah Vivi duduk di belakang jok motor, Fitri segera menstaster motor dan melajukan motornya pelan.
“Fitri, Sholat Dzuhur dulu yuk di masjid Al-Jami,” jak Vivi sambil setengah berteriak karena takut tidak terdengar akibat suasana jalanan yang ramai.
“Oke, tapi gue lagi enggak sholat,” Fitri membalasnya dengan tak kalah kencang.
“Oke, Temenin gue aja,” ujar Vivi yang di balas jempol dari Fitri.
Setelah sekitar sepuluh menit dari kampus, Akhirnya mereka telah sampai di Masjid Al-Jami.
“Lo tunggu di sini apa ngikut masuk ke dalam?” tanya Vivi sambil membenarkan hijab nya di kaca spion.
“Gue nanti nyusul ke dalam, Lo duluan aja,” jawab Fitri.
“Oke, Duluan ya,” pamit Vivi dibalas lambaian tangan dari Fitri.
“Ini muka kok lebar banget dah, mau benerin jilbab aja kaga muat di kaca,” gerutu Fitri sambil membenarkan hijabnya. Karena kesal, Fitri beralih ke mobil di sampingnya yang entah milik siapa.
Tanpa melihat ke kanan-kiri, Fitri segera merapihkan hijabnya. “Nah, gini kan rapih,” ujar Fitri pada dirinya sambil tersenyum.
Kemudian ia mengambil lip tint dari dalam tasnya. Ia mengoleskan lip tint tersebut di bibirnya yang kecil. Kemudian ia merapihkan nya menggunakan tangannya. Setelah rapih, ia memanyunkan bibirnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Ihh geli, Haha,” Fitri tertawa sendiri melihat kelakuannya. Setelah itu, ia memasukkan lip tint ke dalam tasnya, Namun terjatuh karena tiba-tiba pintu mobil terbuka lebar.
“Permisi mbak, saya mau sholat,” ujar seorang lelaki yang baru keluar dari mobil tersebut sambil menahan tawa kala melihat wajah terkejut dari Fitri.
“A-aa, Si-silahkan Mas,” ujar Fitri sambil terbata-bata. Ia menunduk malu tak lupa juga dengan tas yang menutupi wajahnya.
“Gimana mau lewat, Mbak nya masih di sini,” ujar Lelaki berseragam polisi tersebut.
Fitri nampak semakin kikuk kemudian ia menggeser posisi nya ke samping membiarkan lelaki tersebut lewat.
Saat ini, wajah Fitri sudah bak seekor kepiting rebus. Ia sangat malu. Tidak terpikirkan olehnya bahwa di dalam mobil ada pemiliknya. Terlebih seorang polisi. Mampus Lo Fitri! Gerutunya dalam hati.
“Oh ya Mbak, ini lipstik nya,” ujar lelaki tersebut sambil memberikan lip tint Fitri yang tadi terjatuh.
Fitri semakin gugup dan membalikkan tubuhnya ke arah lelaki tersebut. Ia mengulurkan tangannya berniat meminta lip tint nya kembali. Namun sepertinya, lelaki tersebut salah paham.
Ia malah menangkupkan kedua tangannya di dada sambil tersenyum, “Nama saya Yogi Indrawan, Kalau Mbak?” ujarnya memperkenalkan diri.
Fitri mengangkat wajahnya dan melihat heran ke arah lelaki di depannya yang ia ketahui bernama Yogi Indrawan. Tanpa sadar, Fitri menahan tawa.
“Ekhem, Maksud saya kembalikan lip tint saya, Bukan ngajak kenalan Mas,” ujar Fitri sambil menutup mulutnya agar tidak tertawa.
“Oh, Hehehe… Ini Mbak, Mari saya duluan,” ujar Yogi sambil menggaruk tengkuknya malu. Setelah memberikan lip tint ke Fitri, Ia segera pergi meninggalkan Fitri.
“Aduhh, Cogan ya Allah. Sholeh banget kayaknya. Aduhh, Malu banget. Ini juga, ngapain gue asal benerin jilbab enggak liat-liat dulu,” gerutu Fitri kesal sambil menghentakkan kakinya di tanah.
Fitri memutuskan menunggu di motornya daripada masuk ke masjid dan bertemu lelaki tersebut. Setelah beberapa menit menunggu, Akhirnya terlihat Vivi keluar dari masjid.
“Lo nunggu di sini dari tadi?” tanya Vivi sambil memakai helmnya.
“Iya,” ujar Fitri pelan. Setelah Vivi menaiki motornya, Fitri segera menjalankan motor nya pelan meninggalkan pelataran masjid.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.