Karya: Sheila Fiorencia Caroline

~Akan kuhabiskan seluruh hidupku bersamamu. Bahkan jika raga kita terpisahkan, jiwa kita akan selalu bersama, selamanya. Oh sunset, dengan kami berada bawahmu, kuucapkan janji.~

“Kau cantik.”

Semilir angin berhembus dengan dinamis, daun-daun kering yang menguning berjatuhan, kemudian terbang bersama angin yang menerbangkannya entah ke mana. Dari balik jendela, aku melihat pantulan pemandangan langit sore yang berwarna kuning kemerahan. Lukisan indah buatan Yang Maha Kuasa sendiri.

Aku beralih dari pemandangan itu, menatap belahan jiwaku, Marc, yang juga menatapku dengan penuh makna di balik tatapannya. Senyumnya tersungging ketika melihat wajah heranku. Dia duduk di sana, di atas kursi roda itu, dengan kepala yang tersandar penuh ke sandarannya.

Baca Juga  Bicara soal Hidup

“Pembual,” ujarku dengan sedikit senyum di bibir dan pipi yang merona.

Dia hanya mengangkat bahunya sembari berkata, “Aku tidak membual.”

Kali ini aku membalasnya dengan tawa kecil sembari menghampiri untuk memegangi tangannya, “Apa ada yang sakit?”

“Tidak, aku baik-baik saja.”

Aku kembali menatap ke luar melalui jendela, hanya kali ini aku melihatnya dari posisi suamiku yang tidak terlalu jauh dari jendela. Aku beralih menatapnya yang ternyata kini telah duduk tegak sembari menatap keluar. Wajahnya pucat dan kusam, kantung matanya terlihat jelas di bawah matanya.

Namun di balik itu, ada secercah harapan terlukis di matanya. Dengan itu, kuputuskan untuk mengusulkan sesuatu. Sesuatu yang sudah lama tidak kami lakukan, sesuatu yang meninggalkan kesan paling dalam bagi kami setiap melakukannya.

Baca Juga  Aku Mau Memaku Kupu-kupu

“Mau melihat matahari terbenam bersamaku?”

“Seperti di masa lalu, ya?” Aku mengangguk sebagai tanggapan.

“Baiklah kalau begitu. Sudah begitu lama, bukan?”

Dia kembali menyandarkan kepalanya, dengan segera aku berdiri di belakang kursi rodanya untuk mendorongnya pelan. Matanya terpejam begitu kursi roda didorong. Aku tidak bisa menahan senyumku.

Itu tepat satu setengah tahun yang lalu, kabar buruk itu menebasku dengan kuat. Wajahnya yang pucat bersanding kepiluan saat ia memberitahuku. Matanya berkaca-kaca saat itu dan aku diam di tempat tak bisa berbuat apa-apa. Seharusnya aku tahu ada yang salah.

Bertahun-tahun kami hidup di bawah atap yang sama, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya? Begitu pikirku saat itu. Bagaimanapun segalanya sudah terlambat, keadaan sudah menjadi lebih buruk, dan penyesalan selalu datang di akhir.

Baca Juga  Renjana Rumahku