Dari bawah pohon beringin besar tua yang masih kokoh berdiri, kami duduk di atas rerumputan hijau yang dingin bersandarkan batang pohon tua.

Sesaat kami saling tatap satu sama lain sebelum beralih menatap matahari yang perlahan turun ke ufuk timur. Dari balik ujung mataku, kulihat wajah pucatnya yang damai menikmati pemandangan yang ia lihat.

Sepuluh tahun yang lalu, di bawah matahari terbenam, Marc melamarku tanpa sedikitpun keraguan. Cincin berlian biru indah tersemat di jari manisku hingga saat ini.

Rasanya baru saja terjadi kemarin. Secepat itu waktu berputar. Aku ingat saat dia berlutut di hadapanku, memintaku untuk menikahinya dengan kecemasan dan euforia yang menyatu. Kata-katanya tak hanya manis, namun juga telah mengubah pandangan hidupku selamanya.

“Anna, aku tahu tidak pernah mudah bagi kita menjalankan hubungan selama ini. Baik kau maupun aku tidak sempurna. Tidak masalah untuk menjadi tidak sempurna, kau harus tahu itu. Walaupun mereka bilang kau bukan gadis yang baik, aku tidak peduli, tidak lain karena aku sudah lebih dulu mengetahuinya. Intinya yang ingin kukatakan adalah, aku mencintaimu bukan karena kau sempurna. Kau tidak sempurna, tapi aku mencintaimu karena itu. Aku ingin hidup bersamamu, membangun keluarga denganmu, membantu setiap masalahmu bersama, menjadi bagian indah dalam hidupmu. Untuk itulah aku bertanya padamu, maukah kau menikah denganku?”

Secepat itu wajahnya yang penuh kegembiraan kala itu, kini tergantikan wajahnya lesu dengan senyum yang dipaksakan. Tak terasa setetes air mata mulai jatuh dari balik pelupuk mataku. Sesaat kemudian, kurasakan lengan kurus melingkari tubuhku.

Baca Juga  Ayah, Aku Rindu

Dari balik pandanganku yang memburam terhalang air mata yang tak mau berhenti menetes, aku bisa melihat cahaya terang matahari perlahan tenggelam semakin dalam. Bibirku bergetar hebat, waktu seolah berhenti berputar.

“Tidak apa-apa.” Suara Marc yang pelan mencoba menenangkanku.

Kurasakan kepalanya di bahuku. Napasku serasa semakin sesak. Aku sangat takut karena aku tidak bisa melakukan apapun sekalipun tahu apa yang akan terjadi.

Aku merasakan napasnya yang berat di leherku. Kecil, namun aku bisa merasakannya di kulitku. Membuatku merinding di balik kulit rapuhku.

“Aku mencintaimu.” Tepat dua kata itu diucapkan, langit menjadi gelap.

Matahari telah terbenam. Bulan mulai menggantikan tugasnya untuk menerangi dunia. Tak ada lagi kehangatan, tergantikan oleh hawa dingin yang menyedihkan.

Baca Juga  Pelangi setelah Hujan

Tak ada lagi kecantikanmu, oh sunset. Kini aku takut menghadapi hari esok. Tak ada lagi napas di yang terasa di kulitku. Perlahan aku menghapus air mata yang menggenang di mataku. Aku menoleh ke arahnya.

Marc-ku, matanya terpejam dan kulitnya pucat keabu-abuan. Bibir indahnya mengering dan tak ada kehangatan yang datang dari tubuhnya. Ini salah, Marc selalu hangat. Dia selalu menghangatkanku. Aku memegang dadanya, tak sedikitpun kurasakan detak jantungnya.

Dengan lembut aku membaringkan tubuhnya yang telah terbujur kaku. Kupandangi wajah matinya yang nampak damai seolah hanya sedang tertidur. Dia setampan saat pertama kali aku bertemu dengannya, dari bawah sinar bulan. Saat matahari pergi, kau pun ikut pergi.

Baca Juga  Pertamina, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Aku juga mencintaimu.

Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat