Setelah sampai di Kafe, Fitri menceritakan kejadian tadi kepada Vivi. Vivi yang mendengarkannya sampai tertawa terbahak-bahak.

Tanpa sadar, mereka telah mengobrol di kafe sudah sangat lama. Mereka baru menyadarinya saat terdengar adzan ashar. Setelah adzan selesai, Mereka memutuskan untuk pulang.

“Gila! Kenapa sampai tiga ratus sembilan puluh lima ribu gini? Kita makan banyak banget apa ya?” tanya Fitri sambil melirik ke arah Vivi.

“Gue enggak ikut-ikutan ya, Gue makan dikit doang. Lo tuh yang banyak makan dari tadi. Tanggung jawab Lo Fit, gue kaga mau ya kita disuruh cuci piring,” ujar Vivi pura-pura marah.

“Iya-iya. Ini ya mbak,” ujar Fitri sambil menyerahkan uang tiga lembar berwarna merah. Kemudian, Kasir memberikan pengembaliannya sebesar lima ribu.

Setelah itu, mereka segera menuju parkiran untuk pulang.

“Ya Allah, bensinnya habis Vi! Kita gimana dong? Mana duit gue tinggal lima ribu lagi,” ujar Fitri di tengah perjalanan.

“Lo sih Fit, kenapa enggak dicek dulu. Mampir ke warung, pakai duit gue belinya,” ujar Vivi kesal karena keteledoran sahabatnya.

Baca Juga  Guam

Namun saat di dekat Polsek, Fitri menghentikan motor nya. Ia turun dari motor diikuti Vivi.

Kemudian Fitri menunduk melihat ban motor belakangnya. Dugaan Fitri benar, Ban motornya bocor.

“Aaaa! Gue emosi banget hari ini! Udah datang bulan, Tugas ditolak dosen, Malu berkaca di mobil polisi, duit habis, bensinnya darurat, Sekarang?! Ban motor bocor?! Aaaa!!” teriak Fitri dengan kesal, ia juga menendang ban motornya pelan.

“Sabar kali, Yakin deh setiap ujian pasti ada hikmahnya,” ujar Vivi, Ia mengeluarkan headphonenya dari dalam tas. Kemudian segera menghubungi temannya, Zaki.

“Halo Ki, Jemput gue sama Fitri di jalan belimbing deket Polsek ya. Ban motor Fitri bocor, Jemput sekarang,” ujar Vivi, kemudian langsung mematikan nya saat mendapat jawaban dari Zaki.

“Ada apa ini Mbak?” tanya seorang polisi yang menghampiri mereka berdua. “Lho, Mbak yang tadi ya? Kenapa motor nya?” lanjutnya yang ternyata adalah Yogi.

“Alhamdulillah, ketemu mas di sini. Bisa antarkan kami pulang Mas, ke kos-kosan Putri Kasih jalan rambutan? Ban motor kami bocor,” Fitri malah mengajukan pertanyaan balik dibalas cubitan pelan dari Vivi namun Fitri tak menghiraukannya.

Baca Juga  Jiwa Mereka yang Tersesat

“Boleh, itu dekat juga. Sebentar saya ambil mobil dulu ya. Motornya di tinggal di Polsek aja, Nanti diambil. Ini udah hampir magrib juga, Bengkel enggak ada yang buka,” ujar Yogi dibalas anggukan kepala oleh mereka berdua.

*

Di sinilah mereka berada, di mobil pick up yang biasa ditumpangi oleh para polisi.

“Namanya siapa mbak?” tanya Yogi yang duduk berhadapan dengan Fitri.

“Fitri Napisa, ini Vivi teman saya,” jawab Fitri.

Yogi menganggukkan kepalanya pelan.

“Maaf ya mas kalau tadi saya tidak sopan,” ujar Fitri.

“Hehe, Iya Mbak enggak apa-apa, Santai aja. Ekhem, Mbak tau rasa Coklat?” tanya Yogi tiba-tiba sambil memandang wajah Fitri.

“Tau, Manis kan?” jawab Fitri sambil membalas tatapan Yogi.

“Iya, Seperti manisnya senyuman Mbak,” ujar Yogi sambil tersenyum. Kemudian Bram, salah satu polisi yang duduk di dekat Yogi menepuk keras pundak Yogi sambil tertawa. “Haha, Lanjutkan Bro, Kawal sampai halal!” ujar Bram, yang membuat Fitri menunduk salah tingkah.

Setelah beberapa menit perjalanan, Mereka pun akhirnya telah sampai di kos-kosan.

Baca Juga  Bulan Biru

“Makasih ya sudah membantu kami Mas Yogi,” ucap Fitri.

“Makasih aja enggak cukup, Boleh minta nomor telepon nya?” ujar Yogi yang dibalas teriakan heboh dari teman-teman yang di mobil.

“Hehe, Boleh mas,” jawab Fitri. Ia menuliskan nomor teleponnya di headphone Yogi setelah Yogi memberikan nya. Setelah itu, Yogi menerima kembali headphonenya dengan senyuman manis. Setelah berpamitan, Yogi dan teman-temannya pun pergi meninggalkan Fitri dan Vivi.

“Aaa, Fitri! Lo Beruntung banget bisa dideketin polisi. Ini nih, yang namanya buah manis dari ujian. Haha,” ujar Vivi sambil memeluk Fitri.

“Apaan sih Lo Vi, Yuk masuk,” ujar Fitri mengalihkan pembicaraan, Ia nampak salah tingkah.

Tiba-tiba headphone Vivi bergetar. Terlihat nama Zaki di sana.

“Astaghfirullah, Zaki!” teriak mereka berdua hampir bersamaan.

Ya, Sangking senangnya ditolong oleh Yogi, mereka berdua sampai lupa kalau sebelumnya meminta pertolongan Zaki. Sepertinya, Zaki marah. Tapi biarlah, Nanti juga baikkan lagi. Yang penting bisa bertemu dengan Yogi. Pikir Fitri sambil tersenyum geli.

Tamat