Oleh Agustian Deny Ardiansyah, Pengajar SMPN 2 Lepar, Penulis, Pegiat Literasi Basel

Nganggung adalah tradisi dan budaya yang tak-kan lekang oleh waktu, karena merupakan sumber nilai masyarakat Pulau Bangka.

Apresiasi Nganggung sebagai tradisi dan budaya juga dimaktumkan dalam moto Kabupaten Bangka dengan semboyan “Selawang Sedulang” yang menjadi bukti kongkrit nganggung menjadi identitas masyarakat Pulau Bangka.
Ibrahim (2011) menjelaskan, sebagai bagian dari tradisi dan kebudayaan Nganggung tidak terlepas dari karakter dasarnya yang mengalami pendangkalan pemahaman sekaligus perluasan makna.

Kalimat tersebut merujuk pada istilah penolakan dan penerimaan oleh orang-orang di sekelilingnya, dalam rangka pengembangan dan perubahan tradisi.

Peursen seperti yang dikutip Ibrahim (2011) bahwa kebudayaan harus dinilai.
Penilaian atau evaluasi merupakan tindakan mengkritisi tradisi/kebudayaan baik dalam rangka menerima atau menolak, sehingga tidak mengherankan Nganggung sebagai bagian dari tradisi dan kebudayan mengalami evaluasi dari masyarakat.

Baca Juga  Realita Hukum yang Adil di Masyarakat Apakah Sudah Relevan atau hanya Bualan?

Evaluasi tersebut ditunjukan dengan menyesuaikan kondisi kemajuan zaman ke dalam tradisi nganggung, sehingga tetap menjaga eksistensisnya di era kekinian ini.
Nganggung perlu dijaga eksistensinya, karena memiliki sumber nilai yang digali dari kehidupan masyarakat Pulau Bangka.

Ibrahim (2011) memaparkan, sumber nilai yang terkandung dalam nganggung adalah nilai religiusitas, nilai solidaritas, nilai soliditas, nilai demokrasi, dan nilai keadilan.

Yang jika dilihat secara saksama merefleksikan tatanan nilai yang mengakar kuat pada masyarakat Indonesia, yaitu Pancasila.
Nilai religiusitas adalah nilai dasar nganggung.

Nganggung menjadi sarana ibadah masyarakat Pulau Bangka yang dipahami sebagai media interaksi religiusitas.

Melalui nganggung masyarakat merefleksikan tradisi warisan leluhur menjadi jembatan mendekatkan diri pada Allah SWT.

Baca Juga  Menari Air

Pemilihan waktu nganggung juga menunjukan religiusitas, karena dilaksanakan pada hari-hari besar Agama Islam dan identik dengan surau atau masjid serta dibarengi dengan ceramah dan doa bersama.
Pernyataan di atas dapat dimaknai, ngganggung merupakan bentuk sarana ibadah dalam kehidupan masyarakat Pulau Bangka, dengan tidak mempersoalkan keimanan seseorang tetapi merujuk pada individu yang tetap menjaga tradisi keagamaan.

Nilai religiusitas pada nganggung itulah yang membuat masyarakat Pulau Bangka selalu menegakan surau atau masjid di setiap kampung/dusun.
Nilai solidaritas merupakan nilai yang tak terpisahkan dari tradisi nganggung, karena dengan adanya kegiatan nganggung solidaritas secara otomatis terbentuk.

Nilai solidaritas tercermin dari sikap individu masyarakat yang meletakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Baca Juga  Sepucuk Surat Receh untuk Kakak