Karya: QFadh as Qori Arizki, Mahasiswa UIN Malang asal Bangka Selatan

 

“Mohon perhatian, sesaat lagi kereta api Malioboro ekspress akan tiba di stasiun Jogja. Bagi Anda yang akan mengakhiri perjalanan di stasiun Jogja kami persilahkan untuk mempersiapkan diri. Periksa dan teliti kembali barang bawaan Anda, jangan sampai ada yang tertinggal.

Untuk keselamatan Anda, tetaplah berada di tempat duduk sampai kereta berhenti dengan sempurna. Terimakasih atas kepercayaan Anda menggunakan jasa layanan Kereta Api Indonesia, sampai jumpa pada perjalanan berikutnya.”

Suara pengumuman kedatangan kereta api itu membangunkanku dari lelapnya mimpi. Akupun bersiap, memastikan tidak ada barang yang tertinggal.

“Ke Jogja aja, Dek, ketemuan di sana … biar gue gak jauh kalo harus ke Malang dan lu gak jauh kalo harus ke Jakarta.” Idenya di telepon pada saat itu. Aku menjawab, ‘’Ya.” Ketika kakakku menawarkan liburan berdua di Jogja.

Beberapa bulan yang lalu, kakakku -Chintya Lesta- mengabarkan akan ke Jogja paruh bulan Maret ini, melepas penat setelah ribuan kali merevisi skripsi, yang dipersulit dosen pembimbing, katanya.

Sayangnya, paruh bulan Maret tersebut awal dari perkuliahan di semester empat, tapi bukan seorang adek namanya jika tidak meniru kakaknya.

Baca Juga  Lelaki Tua yang Memikul Dua Kanak-kanak di Bahunya

“Sesibuk apapun aktivitasmu, luangkan sedikit waktu bersama keluargamu,” petuah Kakak kala itu. Kakak yang selalu menomor satukan keluarga.

“Uang bisa dicari, tapi kebersamaan waktu bersama seseorang yang dicinta gak datang dua kali,” lanjutnya. Karena landasan itulah, aku mengambil jatah kuliah dengan alasan acara keluarga.

Aku anak kedua dari lima bersaudara. Adapun Kakak merupakan anak percobaan, anak pertama dan cucu pertama di keluarga besar. Usia kami terpaut 5 tahun, aku selalu mengikutinya bermain ketika masih anak-anak. Walaupun kerap kali diusir, kami dekat, terlebih karena sesama perempuan, terlebih anak mamak hanya berdua saat itu.

Kakak menjadi sesorang yang selalu kucari setelah orangtuaku, hanya bersama Kakak, aku bisa membahas perihal jatuh dan patah hati. Dia pula satu-satunya orang yang selalu mendukung apapun keputusanku serta siap membantu mewujudkan cita-citaku. Ketika aku mengutarakan keinginanku menjadi novelis, orangtuaku membantah habis-habisan.

“Pekerjaan seperti itu tidak bermutu, seniman tidak menjamin keberlangsungan hidupmu,” sindir Mamak pada saat itu,

“Lebih baik menjadi pendakwah seperti Mba Oki, bermanfaat bagi oranglain,” lanjut Ayah berargumen.

Baca Juga  Lucid Dream Alaya: Pertualangan Menuju Dunia Impian

Aku terdiam, tapi Kakak selalu menjadi garda terdepan untuk menenangkanku, “Apapun keputusanmu lanjutkan, kakak selalu dukung, lambat laun mereka akan mengerti dan menerima keputusanmu.”

Rasa tenang hinggap di hatiku, mulai saat itu aku bertekad memperjuangkan dan bertanggung jawab atas segala pilihan di hidupku.

Darinya, aku belajar banyak mengenai taktik kehidupan. Mendapatkan uang jajan lebih dari orangtua, bisa bermain hingga sore hari, memanjat pohon cherry, cara beradaptasi dan memperluas relasi, misalnya. Ah ya, satu lagi mix and match baju, ya mungkin di lemariku saat ini 90?ju Kakak.

Duh, terlalu banyak taktik kehidupan sampai tak bisa disebutkan satu persatu. Pada intinya, kakakku yang terbaik walaupun mempunyai sisi gelap, egois, keras kepala, dan temperamental.

“Braaak!” Lamunanku buyar, barang-barangku jatuh berhamburan.

“Ah, maaf, Kak!” ucapku, walau dia yang menabrak, salahku juga yang melamun. Lekas kuminta maaf, tetapi orang yang menabrakku melengos begitu saja.

“Ah, sudahlah, apa pentingnya?” desahku pelan.

“Rey!” teriak kakakku sembari melambai-lambai. Ia tampak antusias bertemu denganku. Dengan segera kami berpelukan. Membikin rasa haru begitu kental terasa.

“Bego banget sih, lu! Ditabrak sepihak, kok, lu yang minta maaf?”

Baca Juga  Tarik Minat Baca Siswa, Sat Polairud Bangka Tengah Punya Perpustakaan Terapung

Baru saja peluk haru sudah kena omel. Begitulah tabiatnya, mengomel tanpa henti.

Dulu kakak pernah terheran melihatku, “Lu terlalu polos, Dek, menghadapi dunia ini … dunia ga semenyenangkan itu. Ga tau deh lu terlalu polos apa bego … kadang kepolosan sama kebegoan beda tipis, setipis benang yang ga terlihat.’

Ya, sifatku yang satu ini juga sejujurnya aku benci. Selalu ga enakan sama orang, selalu menerima keadaan, selalu tersenyum meski diinjak-injak. Sifat-sifatku yang mudah sekali dikelabui orang.

“Yaaa, ngapain dipermasalahin. Guenya juga bengong, jadi ya … salah gue juga,” jawabku santai.

“Marah dikit kek! Orang selalu nganggap lu sepele kalo lu begitu terus,” sarannya.

Aku hanya mengangguk mengiyakan. Ya, agar tidak panjang lebar sebenarnya. Kali ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama Kakak tanpa ada adu mulut. Meski hal tersebut mustahil terjadi.

Kakakku memesan layana transportasi online untuk kita berdua menuju penginapan tempatnya menginap.

Jogja merupakan jalan tengah, titik tumpu pertemuan kita, dan aku mencoba mengukir kenangan istimewa di tempat yang istimewa bersama orang yang istimewa pula, kakakku.