“Udah bisa naik kereta sendirian, nih?” ledeknya.

“Ya iya lah, udah semester 4 … ya kali masih sesat naik kereta,” kelitku

“Ahh, waktu itu gue bukan sesat naik kereta … tapi kitanya aja yang miss communication,” lanjutku mengklarifikasi.

***

Lima tahun yang lalu

Ketika aku sedang menginjak akhir dari masa putih biruku, akhir dari Sekolah Menengah Pertama dan awal menginjak remaja. Aku berlibur akhir semester sebelum perpisahan.

Saat itu aku mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Terpadu Ekonomi Islam Multazam. Ya, sebelum namanya diganti. Sekarang telah berganti nama menjadi Pesantren Tahfidz Ekonomi Islam Multazam.

Waktu itu aku berlibur di tempat kakakku di Tigaraksa. Tidak memungkinkan jika aku pulang ke Bangka, padahal liburnya hanya sebulan. Karena kesibukannya mengajar les private, dan jarak dari Tigaraksa ke Bogor yang lumayan memakan waktu, akhirnya kakakku menitipkanku kepada salah satu temannya.

Ustadz Moehammed, namanya. Seangkatan dengan kakakku dulu semasa di pondok dan masih mengabdi pada saat itu. Diantarlah aku ke Stasiun Cisauk menuju Stasiun Tigaraksa, tapi hanya diantar saja dan tidak ditemani sampai Tigaraksa. Bodohnya, saat itu Ustadz Moehammed tidak mengonfirmasi, bahwa aku sudah diantar, dan sedang perjalanan menuju Tigaraksa.

Meskipun sudah lima tahun berlalu, tapi kenangan itu masih melekat dalam benakku. Saat itu hari Kamis, aku sedang menjalankan puasa sunnah saat itu, dan aku hanya memegang uang sebesar lima ribu rupiah saja.

Baca Juga  Sepucuk Surat Receh untuk Kakak (Tamat)

Suara khas pengumuman keberangkatan menyampaikan bahwa kereta sudah sampai di Tigaraksa, aku segera beranjak dan menunggu pintu gerbong terbuka. Aku turun celingak celinguk. Huh, tidak ada yang menunggu kedatanganku.

Dengan gontai aku berjalan menyusuri jalan. Es tebu di pinggiran rel kereta api itu menggoda imanku. Niat untuk berbuka itu kuurungkan, hingga sampailah aku di pangkalan angkot, dan menunggu jemputan.

Hari itu, matahari sangat terik. Peluh mulai bercucuran dari dahiku. Menunggu selama berjam-jam sangat tidak menyenangkan. Pada akhirnya kesabaranku habis, aku nekat pergi sendiri ke rumah anak muridnya kakakku. Sebelumnya aku pernah berkunjung sekali.

Ketika Kakak masih tinggal di rumah anak muridnya, tapi pada saat itu aku tidak tahu bahwa Kakak sudah ngontrak sendiri. Karena sudah menunggu berjam-jam, aku memutuskan naik angkot menuju rumah anak murid kakakku, mungkin dia masih mengajar, begitu asumsiku.

Dengan mengandalkan memori usang, layaknya benang kusut, aku pergi menuju rumah anak murid kakakku,. Pdahal aku hanya pernah ke sana sekali. Jadi bagaimana aku ingat jalannya? Bagaimana jika menaiki angkot yang salah? Buruknya pada saat itu aku tidak memegang handphone.

Dengan keyakinan hati ditambah kebaikan hati sang supir angkot, sampailah aku di tempat kakakku mengajar. Sialnya dia sudah tidak tinggal di sana. Bersyukurnya pembantu di rumah itu mengantarkanku ke kontrakan kakak. Namun, sialnya ternyata kakakku tidak ada.

Baca Juga  Legenda Ikan Kelek Pergam

Aku menunggu di depan pintu yang terkunci sampai tertidur, hingga tetangga menghampiriku, dan membantu menghubungi Kakak. Saat itu menjelang waktu malam, dari pagi hingga malam aku terluntang-lantung di tanah antah berantah yang tak kukenal.

Akhirnya aku disuruh untuk berada di rumah tetangga dahulu, tapi aku menolak, kakakku hampir sampai. Aku pun tertidur lagi, masih di depan pintu yang terkunci dan lantai yang dingin. Jujur aku sangat lelah pada saat itu. Rasa lelah, penat, haus, dan lapar menjadi satu, hanya pasrah kepada Allah. Lalu terlelap dalam mimpi.

Suara motor membangunkanku, akhirnya kakakku tiba. Orang yang sudah kutunggu dari pagi, satu-satunya keluarga yang kupunya di tanah orang. Orang yang selalu menjadi tempat berpulang dan orang yang selalu menjadi garda terdepan untuk adik-adiknya.

Wajahnya merah padam dan berlinangan air mata. Marah, panik, takut, tersirat dalam mimik wajahnya. Ia mendatangiku, menjewer telingaku, “Dari mana aja kamu? Dicariin dari siang ga ketemu-ketemu … dibilangin tunggu aja di sana, pasti bakal dijemput, kok. Jangan sok tau makanya. Ini di tanah orang … bukan di Bangka,” cerocosnya, tanpa henti.

Siapapun yang berada dalam situasi ini pasti marah. Walaupun kutahu marahnya karena khawatir. Marahnya tanda sayang, marahnya tanda peduli. Aku menjadi tanggung jawabnya di sini. Aku satu-satunya keluarga yang ia punya di sini. Aku satu-satunya yang harus ia jaga mati matian. Ia membuka pintu kontrakannya dan kembali memelukku erat.

Baca Juga  Duka Seorang Ibu (Tribute to Hafidzah-Tamat)

“Kita cuma punya satu sama lain di sini. Tolong jangan bikin kakak khawatir. Kita di tanah orang, kita asing di sini, kita harus saling jaga … kalo kamu kenapa-napa kakak hancur.” Isak tangisnya terasa membasahi wabjuku. Aku tak menyangka reaksinya sekhawatir itu.

Salahku, harusnya rasa sabar dalam diri ini lebih luas. Mungkin jika menunggu sebentar lagi saja, apakah hal ini tidak terjadi? Mungkin tidak, tapi hal ini menjadi pembelajaran hidup ke depannya.

Maaf Kak, karena aku menjadi adik yang selalu merepotkan. Maaf Kak, karena aku kerap kali membuatmu khawatir. Maaf kak, karena aku bebanmu bertambah. Maaf kak, aku masih belum menjadi adik yang membanggakan untukmu.

Pun bukan adik yang selalu mendengarkan nasihat kakaknya, tapi aku seorang adik yang masih membutuhkan kasih sayang dan support dari seorang kakak, kakak sepertimu –Chintya Lesta–. Maaf. Maaf. Maaf.

“Kamu udah makan?” tanyanya, masih dengan raut wajah yang khawatir

“Aku puasa,” jawabku pelan.

“Ini buka dulu,” ujarnya sembari menyodori air mineral.

“Kakak ga masak hari ini, jadi abis sholat maghrib .. kita cari makan di luar ya!” tuturnya lembut. Aku hanya mengangguk, sholat, dan bersiap ke luar untuk mencari makan.

Hari itu, Kamis itu, aku mengetahui seberapa besar rasa sayang kakakku padaku.

Bersambung