Karya: Nurul Jannah Gustina

“Menurutmu, apakah dunia paralel itu benar-benar nyata, Ayaka?” tanya seorang gadis berkepang dua tersebut.

“Tumben sekali, memangnya kenapa kalau ada?” tanya gadis di sebelahnya. Ayaka menatap langit biru yang cerah siang ini. Didengarnya derik jangkrik yang bersahutan di halaman rumahnya—peliharaan Alaya. Merdu. Angin meniup poninya sebelum dia menjawab,”Jika ada, aku ingin ke sana saja. Meninggalkan dunia ini. Ah tidak, kuharap ada. Kuharap,” jawab gadis kepang dua itu, ia kembali melihat sampul novel fantasi yang baru dipinjamnya dari perpustakaan pagi tadi.

Ayaka mengernyit heran. Kenapa lagi bocah satu ini? Rasanya ia tak ada masalah baru-baru ini, entah keluarga maupun sekolah aman-aman saja. Tetapi, mengingat beberapa hal, ia tersenyum getir. Memahami alasan dari pertanyaan sahabatnya itu.

“Sebegitu muaknya kamu dengan dunia ini, Alaya?” katanya, “Kalau dunia paralel bisa membuatmu bahagia, kuharap ada, Alaya. Aku pun ingin singgah ke sana walau sekejap.” Ayaka tersenyum, membayangkan indahnya pertualangan nanti.

Baca Juga  Senandika: Sembilan Hari Tanpa Engkau, Berteman Lagu Cinta Bagian 2

Walaupun di setiap pertualangan pasti ada bahaya, biarlah. Ia dengan senang hati mati dalam petualangan itu ketimbang karena lelah hidup di dunia ini.

Mereka berdua hening. Memproyeksikan khayalan mereka akan dunia paralel yang beragam warna, kisah dan misterinya. Mereka memiliki hobi yang sama. Membaca buku.

Bahkan genrenya pun sama, tak jauh-jauh dari fantasi, aksi, kalau tidak, ya sci-fiction dan misteri. Tak ada romansa. Tak ada hati yang berbunga dan air mata karena cinta.

Mereka berdua tak butuh pemborosan energi seperti itu. Mereka membaca untuk mengisi energi, berpetualangan di negri antah-berantah, memecahkan kasus, dan hal lain yang membuat jiwa mereka beranjak dari dunia ini. Melayang terbawa serpihan narasi yang tertera dalam novel.

“Tapi, bagaimana jika tidak? Kita hanya anak SMA yang percaya teori dunia paralel tanpa punya gerbang pastinya sendiri,” celetuk Ayaka, ia sebenarnya tak ingin membuat sahabatnya sedih karena perkataannya. Tapi, jika khayalan akan dunia paralel itu sendiri akan menjadi obsesi yang membahayakan sahabatnya, ia harus tega. Untuk kali ini.

Baca Juga  Mimpi si Bungsu Melaut

Tanpa diduga, Alaya tersenyum. Seakan memprediksi pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya tersebut.

“Aku mencari beberapa artikel. Yang lumayan untuk dicoba. Walau itu bukan dunia paralel. Tapi jika berhasil, mungkin efeknya akan sama. Gerbangnya mudah. Kita bahkan melakukannya setiap hari. Hanya langkah-langkahnya belum lengkap.” Alaya menjelaskan dengan semangat. “Dan ternyata, aku pernah mengalaminya. Aku waktu itu hanya tak tahu dan mengira itu hanya mimpi panjang tak jelas. Tapi ternya itu adalah awal mulanya,” sambungnya.

Ayaka mengerutkan keningnya, “Jangan bilang, yang kamu maksud adalah mimpimu waktu itu. Yang jiwamu entah bagaimana menjadi orang lain. Menjalani kehidupan yang seolah telah ditentukan?” tanya Ayaka memastikan. Dijawab dengan anggukan oleh Alaya.

Baca Juga  Panggung Kosong

“Bedanya, aku baru tahu kalau itu bisa dikendalikan. Tapi tak semau kita juga. Itu semua tergantung sinyalmu,” kata Alaya. Membuat Ayaka semakin bingung. Matanya melirik Alaya dengan dahi mengerut, seakan berkata, sinyal apa? Memangnya mimpi butuh sinyal?

“Kau, tidak sedang berkhayal, kan?” Ayaka memandang Alaya, memastikan kesadaran atas apa yang diucapkan gadis itu.

“Tidak, aku serius. Namanya Lucid Dream. Cari saja di Internet, pasti ada. Aku baca, jika kita sengaja ingin masuk, biasanya agak sulit. Itu seperti kita membuat dunia impian kita sendiri. Kau paham konsep mimpi, kan?” Alaya bertanya balik.

Ayaka mengangguk, lalu berkata, “Kita bisa melakukan apapun yang kita mau di dunia mimpi, bahkan jika kita terluka sampai berdarah, tak akan terasa sakit. Karena—“