Karya: Afifah Ulfi Urifah

Bima, si Bungsu dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang nelayan dengan perahu kecil untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Si Ibu sangat penyayang, mampu menciptakan kehangatan dalam keluarga di rumah. Hanya saja, Bima selalu merasa menjadi bayang-bayang kedua kakaknya. Sebagai anak bungsu, ia seringkali merasa terabaikan, tak lebih dari pelengkap dalam keluarga. Apalagi kedua kakaknya menjadi orang yang sukses. Kakak pertama, berhasil menjadi seorang dokter dengan beasiswa penuh,  menjadi kebanggaan orang tua.

Kakak kedua, juga tak kalah hebat. Meski tidak berbakat dalam bidang akademik, tapi kakak keduanya seorang yang berbakat dalam seni. Bahkan, diusianya yang tergolong muda, kakaknya berhasil menjadi seorang seniman terkenal, dipuji dan dikenal oleh banyak orang karena bakatnya yang luar biasa. Sedangkan Bima, dengan segala keterbatasannya, merasa tak punya tempat.

Bima tinggal di  desa nelayan kecil pada pulau terpencil. Setiap hari, ia melihat Ayahnya dengan nelayan lain pergi melaut, dan pulang membawa hasil tangkapan yang melimpah. Bima iri dengan kebebasan mereka. Ia ingin merasakan sensasi angin laut menerpa wajahnya, merasakan ombak menerjang perahu, dan melihat matahari terbit dari tengah lautan.

Baca Juga  Petaka di Balik Mangkok Kencana

Suatu sore, Bima memberanikan diri bertanya pada ayahnya, seorang nelayan berpengalaman. “Yah, boleh tidak aku ikut melaut bersama Ayah?” tanya Bima dengan penuh harap.

Ayahnya tersenyum lembut. “Tidak biasanya kamu seperti ini. tentu saja boleh nak, ayah akan memberikanmu pengalaman yang menyenangkan untukmu, tapi kamu harus kuat dan tidak takut.”

Wah, baik ayah! aku janji akan menjadi kuat dan tidak mudah takut!” jawab Bima penuh semangat.

Keesokan harinya, Bima sudah nampak bersiap-siap untuk ikut ayahnya melaut. Awalnya, ia merasa senang. Namun, saat ombak mulai besar dan angin bertiup kencang, Bima mulai ketakutan. Ia merasa bahwa lautan berbeda dengan rumah yang memiliki kehangatan.

“Ayah, maafkan Bima, Bima merasa takut!” ucap Bima dengan nada pelan. Mendengar itu, ayahnya pun menghampirinya dan memberikannya sebuah selimut yang memang sudah disiapkan dari rumah.

“Pakailah ini nak, agar tetap hangat. Jangan takut, Ayah pasti akan selalu menjagamu.” jawab sang ayah dengan penuh keyakinan. Mendengar itu, kini suasana hati Bima sudah lebih baik. Dirinya kembali merasakan kehangatan dan keamanan dengan hadirnya yang Ayah yang selalu menjaganya.

Baca Juga  Bangkit dari Kegagalan

“Kenapa kamu ingin ikut Ayah melaut, Bima?” tanya ayahnya sembari menjaring ikan.

Bima terdiam sejenak. “Aku ingin mencari jati diriku, Yah. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukan sesuatu yang hebat,” jawabnya dengan pelan.

“Lantas kenapa kamu memilih laut, nak?” tanya kembali si ayah.

“Aku melihat alam sangat baik kepada kita, Yah. Alam memberikan kita makan dan segala kebutuhan hidup kita. Karena itu, aku ingin mencoba lebih dekat dengan alam untuk menemukan jati diriku. Tapi aku tak tau jika alam juga bisa menjadi sangat menyeramkan hingga membuatku ketakutan.” jelas Bima dengan lemas.

Ayahnya mengangguk mengerti. “Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, Nak. Memang perlu proses yang tidak mudah untuk menemukan jalan hidup yang tepat untuk diri kita. Begitu juga dengan Ayah, Ayah dulunya takut sekali dengan ombak laut, sepertimu. Tapi kakekmu mengajarkan Ayah, bahwa alam tidaklah baik dan tidaklah juga jahat. Mereka hanya memberikan, sesuai dengan yang mereka rasakan.” jelas si ayah dengan lembut.

Baca Juga  Riuh yang Tak Terlihat

“Aku tidak mengerti, apa yang Kakek ajarkan kepada Ayah?” tanya Bima dengan bingung.

Ha ha …, baiklah Ayah akan ajarkan padamu. Alam, bisa jadi baik maupun jahat tergantung dengan kita nak. Jika kita terus merusak alam, membuang sampah sembarangan, alam akan marah dan kembali memberikan bencana kapada kita. Tapi jika kita menjaga alam, alam juga akan memberikan manfaatnya kepada kita.” jelas si ayah, membuat Bima mulai mengerti.

Sejak saat itu, Bima mulai menyadari bahwa dirinya tidak perlu menjadi seperti kakak-kakaknya. Ia memiliki kelebihan dan minat yang berbeda. Untuk memperjelas jalan hidupnya, Bima mulai rajin membaca buku tentang biologi laut, mempelajari berbagai jenis ikan, dan mengamati kehidupan di bawah laut.

Hingga pada suatu hari, Bima menemukan seekor Penyu yang terdampar di pantai. Bergegas dirinya mengajak Si Ayah untuk merawat penyu itu hingga sehat kembali dan melepaskannya ke laut.