Mimpi si Bungsu Melaut
“Ayah, lihat ini! aku menemukan seekor penyu yang terdampar di pantai. Sepertinya ia terluka,” teriak Bima dari kejauhan.
“Mana, sini coba Ayah lihat dulu,” jawab si ayah bergegas menghampiri Bima.
“Sepertinya, Penyu ini terjerat oleh sampah plastik di lautan. Membuat lehernya tersangkut dan terluka.” jelas si ayah setelah melihat penyu itu.
“Kenapa bisa ada sampah plastik di lautan, Yah?” tanya Bima dengan bingung.
“Seperti yang Ayah bilang kemarin nak, tidak semua orang bersikap baik juga dengan alam. Ini pasti ulah manusia yang tidak bertanggungjawab dan membuang sampah sembarangan tanpa peduli dengan alam.” jelas Si Ayah sembari mencoba mengobati Penyu itu.
“Penyu, maafkan manusia ya. Aku berjanji akan merawatmu hingga sembuh,” ucap Bima merasa bersalah. Hingga setelah beberapa hari dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Bima dan keluarganya, penyu itu kembali sehat.
“Nak, sekarang nampaknya Penyu itu sudah membaik. Sebaiknya kamu bergegas melepaskannya kembali ke alam,” ucap si ayah.
“Tapi, Yah. Lautan itu luas dan menyeramkan, bagaimana jika Penyu ini terluka lagi di lautan?” jawab Bima dengan ragu.
“Nak, bagaimanapun juga lautan adalah rumah Penyu itu. Jika kamu khawatir dengannya, bantulah dengan menjaga lingkungan rumah Penyu ini agar tidak mengancamnya lagi,” jelas si ayah dengan lembut.
“Baiklah Ayah, ayo kita antarkan penyu ini kembali pulang ke rumahnya,” jawab Bima dengan semangat menuju pantai untuk mengantarkan kembali penyu itu.
“Penyu, hati-hati ya. Lautan ini sangat luas, tidak semuanya aman untukmu. Jika suatu saat nanti kamu kesulitan lagi karena ulah manusia, kembalilah kesini, kami akan selalu ada untuk menolongmu.” ucap Bima seolah memberi pesan perpisahan kepada penyu itu.
Peristiwa ini membuat Bima merasa sangat bahagia. Ia menyadari bahwa ia memiliki kepedulian yang besar terhadap lingkungan dan makhluk hidup. Membuatnya semakin yakin bahwa jalan hidupnya dekat dengan alam laut.
Setelah kejadian itu, Bima mulai mengumpulkan teman-teman sebayanya untuk melakukan kegiatan bersih pantai. Mereka mengumpulkan sampah yang berserakan dan mengadakan kampanye untuk menjaga kebersihan laut. Kegiatan tersebut menjadi proyek kecil yang membuat Bima merasa bangga, dan menjadi langkah awal jalan hidupnya. Ia sudah memutuskan akan melanjutkan pendidikannya di bidang kelautan dan ingin menjadi seorang ahli biologi laut dan berkontribusi dalam pelestarian lingkungan hidup.
Beberapa tahun kemudian, Bima berhasil meraih mimpinya. Ia menjadi seorang peneliti Oseanografi terkenal. Ia sering melakukan penelitian di berbagai belahan dunia, mempelajari kehidupan laut yang menakjubkan.
Suatu hari, Bima kembali ke desa kelahirannya. Ia mengunjungi Ayahnya yang sudah menua. “Terima kasih, Yah. Berkat semua yang Ayah ajarkan padaku, aku jadi bisa menemukan jalan hidupku,” ucap Bima sambil memeluk Ayahnya.
Ayahnya tersenyum bangga. “Ayah selalu percaya padamu, Nak. Kamu telah membuktikan bahwa kamu bisa menjadi siapa saja yang kamu inginkan.”
Bima menatap ke arah laut lepas. Ia merasa sangat bersyukur atas semua yang telah ia capai. Ia menyadari bahwa perjalanan mencari jati diri itu tidak pernah berakhir. Setiap pengalaman baru akan selalu membawa kita pada penemuan diri yang lebih jauh.
Afifah Ulfi Urifah adalah siswa Kelas XII SMAN 1 Toboali, Bangka Selatan
