“Karena hanya mimpi. Hahahaha. Itulah kuncinya. Masalahnya, tidak setiap tidur kita bermimpi. Ya, mungkin ada orang yang begitu. Tapi, untuk kita yang tidak, kita harus mengirimkan sinyal,” ucap Alaya dengan wajah girang penuh senyuman.

Berbeda dengan Ayaka yang semakin mengerutkan kening. Penasaran sampai kepalanya sakit memikirkan tentang “sinyal” yang dimaksud.

Tanpa menghiraukan kata “sinyal” yang tidak dia mengerti, Ayaka bertanya tentang hal lain, “Bagaimana jika kita tak bisa mengirimkan sinyal? Atau malah sudah mengirimkan tapi tetap tidak bisa?” katanya.

Alaya yang masih tersenyum kembali menghadapkan pandangan ke langit biru. “Jika sudah tak bisa. Maka jalan satu-satunya adalah menunggu disaat sinyalmu tanpa sadar mengirimkan di radar terkuatnya. Membuat dunia itu terbuka dengan sendirinya, menyambut kita, mengundang kita ke dalamnya.”

Ayaka mengangguk-angguk. Ia tak bertanya kenapa Alaya sangat antusias mencoba membuka gerbang dunia itu dengan berbagai cara yang bisa dicobanya.

Bukan malah menunggu dia sendiri yang diundang ke dunia mimpi itu. Karena ia tahu, Alaya tak suka ketidakpasian. Menunggu tanpa kepastian, sama saja seperti menyiksa diri.

Baca Juga  Mengejar Bayang

Ia tak suka mencurahkan amarahnya kepada orang atau barang, juga tak bisa menyakiti diri sendiri, yang ia bisa hanya menangis—itupun Alaya bosan melakukannya, padahal kepalanya begitu penuh dengan tekanan untuk bisa menggapai keinginan, sementara ia harus menunggu tanpa kepastian.

“Lalu, coba saja. Selama itu tidak menyakiti diri sendiri. Tapi, kalau masih tidak bisa, damai saja. Toh dia akan tetap datang untuk menghibur kita. Bukannya kamu tidak akan masuk lagi ke dunia itu,” ujar Ayaka, ia memikirkan kemungkinan yang sangat tidak Alaya sukai.

Terbukti dengan kerutan kening Alaya yang kemudian menjawab perkataan sahabatnya itu. “Kalau masih tidak bisa, aku lihat lagi di internet, selain lucid dream ada yang mirip, tapi berisiko. Caranya lebih simpel dan dari bebrapa orang yang mencoba, langsung berhasil pada percobaan pertama, hanya menulis kode angka –“

Baca Juga  Senandika: Sembilan Hari Tanpa Engkau, Berteman Lagu Cinta (Bagian 6)

“Jangan coba-coba cara itu, Al! Terlalu bahaya, itu kalau kau gagal keluar dari masalahnya, atau kau malah tertangkap penjahatnya. Kau tidak akan bangun lagi. Jiwamu sudah milik iblis saat itu.” peringat Ayaka dengan raut datar. Ia sama sekali tak suka jika Alaya mencoba hal-hal yang berpuncak pada kematian, atau beresiko yang resikonya tak jelas apa.

Melihat mata sahabatnya yang tersirat rasa lelah. Ia tahu mata itu berkata ingin mati. “Aku tahu kau lelah hidup. Aku juga. Kalau kau mati, bagaimana aku? Kau ingin meninggalkanku? Bagaimana dengan orang yang membuatmu begini? Kau lepas begitu saja? Kau harus mewujudkan ketidakinginan mereka tentangmu, Al,” ucap Ayaka yang kali ini dengan nada lembut.

Matanya juga berkata lelah, tapi untunglah logikanya masih normal. Ia tak akan mati semudah itu. samakin dia cepat mati, semakin membuat pembenci senang.

Baca Juga  Gumpalan Aksara

Alaya mengangguk. “Tentu saja aku akan tetap hidup. Sampai aku bisa senyum di atas senyuman Ibuku.” Ayaka mengangkat jempolnya. Baguslah kalau Alaya sudah sadar. Setidaknya gadis itu masih memiliki alasan untuk hidup.

“Sudah sore, aku pulang. Selamat mencoba dan semoga berhasil, Alaya. Sampai jumpa,” kata Ayaka setelah menyadari langit biru telah memunculkan semburat merah kekuningan di ufuk barat. Alaya mengangguk, melambaikan tangannya ke arah perginya Ayaka. Menyambut malam dengan mata bersinar.

Tepat setelah  mengerjakan pekerjaan rumahnya, Alaya dengan gesit mencoba cara-cara untuk bisa merasakan Lucid Dream. Dunia dimana kita bisa menjadi apa yang kita mau, memiliki kekuatan apapun yang kita mau, petualangan seperti di novel-novel. Alaya tak sabar.

Setelah melakukan berbagai tahapan untuk memasuki keadaan yang dinginkan. Ia tidur dengan seyuman yang dipenhi harapan. Semoga bisa, semoga bisa.

Nurul Jannah Gustina, Siswi SMAN 1 Pemali, Kabupaten Bangka