Bukan Cinderella
“Tegang amat Bang,” kekeh Novela.
Khafi berusaha untuk bersikap biasa saja, Padahal jantungnya berdebar kencang. Apakah Khafi mencintai Novela? Entahlah, Hanya dirinya dan Tuhan yang tau akan perasaannya.
***
“Novela, Mau kah kamu menikah dengan ku?” tanya seorang lelaki bernama Alvian. Teman SMA Novela dulu.
“Kamu tau Al, derajat kita berbeda. Kamu orang kaya, sedangkan aku enggak punya apa-apa. Aku enggak layak buat kamu Al,” ujar Novela sambil meneteskan air matanya.
“Aku cinta sama kamu bukan karena harta Nov. Aku terima kamu apa adanya,” ujar Alvian.
“Kamu mungkin bisa terima, Terus gimana sama orang tua kamu? Terutama mama kamu yang terlahir dari keluarga kaya raya,” ujar Novela pelan.
“Orang tua aku pasti terima kamu, mereka baik Nov. Begini, urusan orang tua aku, itu biar aku yang ngurus. Sekarang, aku mau tanya ke kamu. Mau enggak kamu nikah sama aku?” ujar Alvian dengan serius.
“Aku–”
“Alvian! Apa-apaan kamu! Melamar anak orang tanpa kasih tau mama. Cepat pulang!” teriak Syifa, Ibunya Alvian marah.
“Mama merestui akukan kalau menikah sana Novela?” tanya Alvian tanpa menghiraukan perkataan Ibunya.
“Mama enggak merestui! Pulang! Mama sudah siapkan jodoh terbaik untuk kamu,” ujar Syifa.
“Kenapa Ma?” lirih Alvian.
“Jelas, karena derajat kamu sama Novela berbeda! Kamu terlahir kaya raya, tetapi enggak dengan Novela. Kita enggak ada yang tau apa alasan dia dekati kamu, bisa jadi karena uang Al,” ujar Syifa sambil melirik Novela sinis.
“Tante, Saya enggak pernah mendekati Alvian. Tetapi dia duluan. Saya juga tulus Tan, tanpa ada niat untuk menguras harta Tante sedikit pun,” ujar Novela memandang kecewa mama Alvian.
“Ma, Sejak kapan harta jadi patokan di hidup Mama? Aku akan tetap menikah dengan Novela, Walaupun tanpa restu Mama sekali pun,” ungkapnya.
“Aku enggak akan pernah mau menikah sama cowok yang enggak menghormati ibunya! Pulang Al, Turuti kemauan mamamu. Mama kamu benar, kita berbeda. Dan enggak akan pernah bisa bersama,” ujar Novela kemudian ia pergi meninggalkan ibu dan anak itu di taman.
Di perjalanan pulang, tiba-tiba hujan turun membasahi bumi. Langitpun seolah merasakan kesedihan yang di alami Novela.
“Gue juga cinta sama Lo Alvian” teriak Novela dari atas jembatan. Memori kenangan indah ia bersama Alvian terus berputar di pikirannya.
“Kenapa Tuhan? Kenapa aku enggak pernah mendapatkan kebahagiaan? Sekali saja, biarkan aku bahagia bersama orang yang kucintai!” ujar Novela pelan.
“Bodoh Lo Novela! Lo berharap hidup seperti Cinderella! Padahal Lo tau, Cinderella hanyalah dongeng semata! Lo bukan Cinderella yang hidup tersiksa bersama ibu tiri nya, kemudian menikah dan hidup bahagia bersama pangeran! Lo bukan Cinderella!” teriak Novela sambil menangis. Kini pun bajunya basah karena hujan yang deras.
Beberapa pengendara motor dan mobil melihatnya dengan aneh. Tidak ada satupun yang mempedulikannya.
Novela memandangi air sungai dengan tatapan kosong. Tanpa berpikir panjang, ia bersiap terjun ke sungai. Namun tidak jadi karena ada tangan yang memeluknya dari belakang.
“Jangan bodoh Nov! Bunuh diri enggak akan menyelesaikan masalah!” teriak Khafi. Novela baru tersadar, ia menangis dalam pelukan Khafi.
“Gue akan wujudkan dongeng Cinderella itu menjadi nyata Nov. Membawa Lo pergi dari kehidupan Ibu tiri Lo yang kejam, dan Hidup bahagia sama Gue,” ujar Khafi sambil mengelus kepala Novela pelan.
“Gue bukan Cinderella Fi,” lirih Novela pelan.
“Kita pulang,” ujar Khafi.
***
Sejak peristiwa di jembatan kala itu, Khafi menepati perkataannya. Ia menikahi Novela dan membawa Novela pergi jauh dari kehidupan Ibu tirinya.
“Kamu bahagia Istriku?” tanya Khafi sambil memandangi Novela yang sedang menyuapi anaknya makan.
Novela memandangi wajah tampan Khafi, Ia tersenyum. “Tentu, Kamu?” tanya balik Novela.
“Sangat bahagia, Apalagi bisa menikah dengan orang yang kucintai sejak dulu. Bahkan, sekarang sudah memiliki jagoan kecil,” jawab Khafi sambil membalas senyuman istrinya.
“Teruslah membuatku tersenyum bahagia suamiku,” ujar Novela.
“In syaa Allah,” ujar Khafi, Ia mencium kening istrinya kemudian beralih mencium pipi anak laki-lakinya.
Selesai

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.