Paranoid (1)
“Tadinya aku sudah tidur, tapi tiba-tiba Bu Ratna membangunkanku. Dia bilang ingin ketemu kamu.”
Mendengar itu, Emilia dengan percaya diri merasa sudah tahu maksud Bu Ratna, “Oh, dia pasti ingin menagih uang kos, bukan?”
Sarah menggeleng pelan, “Bukan, dia bilang ada pria menitip surat untukmu. Surat tulis tangan pula. Jadul sekali. Kalau mau lihat, aku menaruhnya di atas meja. Aku tidur dulu, yah.” Setelah berbicara, Sarah langsung terlelap dalam tidurnya.
Emilia memutuskan membersihkan diri lebih dahulu sebelum memeriksa surat tersebut. Dia bukan orang yang suka mandi di malam hari, tapi keadaan tidak mendukung sekarang. Awalnya dia ingin mandi dengan tenang, mendinginkan kepalanya yang panas. Pikirannya dipenuhi kabut tebal, jadi dia tidak bisa melakukan sesuatu tanpa melamun.
Namun, dia segera berhenti melamun setelah merasakan sesuatu yang tidak biasa. Dia merasa bahwa ada yang sedang mengawasinya. Dia tidak melihat apa-apa, hanya saja tiba-tiba Emilia merasa sepasang mata sedang memperhatikannya. Itu aneh, hanya perasaannya saja, tapi begitu mengganggu. Seolah memang ada yang sedang mengawasinya diam-diam. Akan tetapi, Emilia mencoba menepisnya dan mempercepat mandinya.
Selesai mandi, Emilia keluar dan memilih piyama merah favoritnya untuk dipakai tidur. Emilia memakai piyamanya dengan tergesa-gesa. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman terlalu lama telanjang. Dia lupa tentang surat itu yang membuatnya memutuskan untuk tidur pada malam itu. Sayangnya, Emilia tidak bisa tertidur. Dia mendengar suara-suara acak yang mengganggu.
Suara langkah kaki yang menginjak rerumputan terdengar beberapa kali, hembusan angin tak biasa juga beberapa kali terasa seperti seseorang sedang berlari dan menghasilkan angin, dan Emilia terus merasa ada orang yang sedang memperhatikannya. Emilia mulai mempertanyakan kondisi mentalnya. Mungkinkah ia sedang depresi akibat kehidupan di kampusnya? Mungkin itu membuatnya berhalusinasi?
“Mil?”
Emilia langsung berteriak kaget, namun Sarah langsung menutup mulutnya dengan tangannya, “Hei, jangan berteriak! Kau akan membangunkan yang lain,” bisik Sarah.
Emilia langsung terduduk sambil mengatur napasnya yang sedari tadi tersengal. Emilia sungguh tidak menyadarinya. Seburuk itukah?
“Hei, Mil. Kau kenapa? Mimpi buruk?” Pertanyaan itu dibalas dengan gelengan kepala Emilia.
“Terus kau kenapa? Kau membuatku takut, cerita padaku. Aku tahu harimu sulit, tapi tolong jangan seperti ini.”
Emilia meneguk ludahnya dengan tegang sebelum berkata, “Entahlah, Sarah. A-aku merasa ada yang sedang memperhatikanku. Aku tahu ini rasanya tidak masuk akal, tapi aku merasa takut. Bi-bisakah kau memeriksa keluar jendela untukku? Aku mendengar langkah kaki tadi.”
Sarah berjalan pelan ke arah jendela, membuka tirai putih yang menutupinya. Sarah dengan celingukan memeriksa ke kiri dan kanannya, namun tak menemukan siapapun. Hanya seekor kucing liar yang sedang mengais semak-semak.
“Cuma kucing, Mil. Liat saja sendiri,” kata Sarah sambil menjauh dari jendela dengan tangan yang masih memegang tirai agar tidak jatuh menutupi jendela.
Tanpa beranjak dari kasurnya, Emilia bisa melihat kucing yang dimaksud Sarah. Melihat itu, Emilia langsung menghela napas lega.
“Kau benar, maafkan aku, Sar. Mungkin aku paranoid, mungkin stres-ku saat sidang belum hilang.”
Sarah menutup jendela kembali, lalu membaringkan Emilia sambil memeluknya, “Kau tenang saja, ya. Aku akan ada di sampingmu saat kau membutuhkanku. Sekarang tidurlah, kita sebaiknya pergi jalan-jalan besok. Pikiranmu butuh rekreasi.”
“Begitu, ya?” ujar Emilia sambil terkekeh.
Setelah itu, Sarah menggumamkan kata, “Tidurlah.”
Setelah itu, barulah Emilia bisa tertidur. Sarah mungkin adalah salah satu teman terbaik yang pernah dimilikinya. Sarah sangat pendiam pada orang lain, namun tidak dengan Emilia. Itulah sebabnya Sara sangat berharga baginya. Sesaat mereka terlelap dalam tidur yang nyenyak. Tanpa mereka sadari memang ada sepasang mata sedang memata-matai mereka dari tempat tersembunyi.
Bersambung….

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.