Dari Gubuk Reot Menuju Jas Putih
Oleh: Putri Simba — Mahasiswa Unmuh Babel
Hujan kembali turun sore itu. Air menetes dari atap rumah yang bocor, lalu jatuh tepat ke sebuah ember tua yang sudah dipenuhi tambalan. Bunyi tetesannya terdengar berulang, seolah menghitung berapa lama keluarga kecil itu bertahan hidup dalam kemiskinan.Di rumah gubuk yang nyaris roboh, di sebuah desa yang jauh dari keramaian, tinggalah seorang anak perempuan bernama Dinda.
Ayahnya hanyalah seorang buruh harian. Pekerjaan itu tidak selalu ada. Kadang sehari bekerja, dua hari berikutnya hanya duduk termenung di depan rumah gubuknya itu karena tak seorang pun memanggilnya bekerja. Sementara ibunya hanya bekerja serabutan, kadang mencuci pakaian tetangga, membersihkan rumah orang dari pagi hingga sore hari yang upahnya tidak seberapa, yang terkadang pula tidak cukup untuk membeli beras hingga akhir pekan.
Namun, setiap kali pulang, ibunya itu selalu tersenyum.
“Dinda, kamu sudah makan, Nak?” tanya ibunya itu penuh senyuman.
“Sudah Bu, apakah ibu sudah makan?” ujar Dinda.
Sang ibu menjawabnya dengan jawaban yang sama, padahal ia sendiri pun belum ada menyentuh nasi sedikit pun. Sejak kecil, Dinda terbiasa melihat orang tuanya menyembunyikan rasa lapar perut keroncongannya itu. Suatu malam, Dinda terbangun dari tidurnya karena mendengar suara dari balik dapur. Ia mengintip dengan pelan dan ya terlihat ayahnya itu sedang membagi dua butir telur yang sudah didadar menjadi tiga bagian.
“Ayo, Ibu, makan saja sekarang, cepatlah Bu nanti keburu anak kita Dinda terbangun melihat kita di dapur” ujar sang ayah.
“Tidak, Kamu saja, suamiku. Kamu besok harus bekerja mencari nafkah, jadi Kamu saja yang makan,” jawab istrinya.
Mereka hanya terus saling menyuruh makan, hingga akhirnya keduanya hanya meminum dua gelas air putih. Bagian telur goreng itu diberikan seluruhnya kepada anaknya itu Dinda yang sedang mereka kira putri kecilnya itu masih tertidur lela, padahal sejak tadi Dinda terbangun.dan menyaksikan segalanya dari balik selimut kusut.Malam itu, air matanya mengalir deras tanpa mampu ia bendung. Dengan kedua tangan menutup mulutnya, ia berusaha menahan Isak agar tangisnya tidak terdengar oleh kedua orang tuanya itu.
“Ayah … Ibu … kenapa kalian selalu mengalah demi Dinda dan selalu menahan lapar sepanjang hari?” batinnya lirih
Tak lama kemudian, kruk, kruk, kruk suara langkah kaki terdengar mendekati kamarnya. Dinda buru-buru mengusap air matanya yang masih basah lalu memejamkan mata berpura-pura tidur pulas.
Tirai lusuh terbuka pelan dari balik kamar Dinda. Ibu dan ayahnya itu mulai duduk di tepi ranjang papan lalu berusaha membangunkan Dinda.
“Dinda … ayo bangun dulu, Sayang . Makan malam dulu, ya, setelah itu baru tidur,” ujar ibunya itu.
Dinda membuka matanya seolah terbangun dari tidurnya itu. Tatapannya langsung tertuju pada piring pelastik yang ditangan ibunya. Di atas piring itu hanya ada sepiring nasi hangat dan telur goreng.
Dengan suara bergetar Dinda bertanya pelan.
“Jika aku makan, lalu Ayah dan Ibu makan apa?” tanya Dinda pelan.
Ayah,dan ibunya itu hanya tersenyum, meski matanya tak mampu menyembunyikan kenyataan.
“Kami sudah makan, Nak,” sahut sang Ayah.
“Sssttt, diam sekarang, aku mau Ayah dan Ibu makan bersamaku,” ujar Dinda.

