Dari Gubuk Reot Menuju Jas Putih
Dinda pun langsung menyuapi Ayah, ibunya satu persatu secara gantian dan di tengah itu ayahnya kembali berkata.
“Anakku Dinda, harta itu boleh tidak kita punya. Tetapi kalau pendidikan jangan pernah kamu lepaskan ya? Kamu harus terus sekolah agar kamu bisa menjadi seorang dokter yang hebat dan sukses di masa depan,” ujar ayahnya itu kepada Dinda.
Mendengarkan perkataan ayahnya, Dinda berjanji kepada kedua orang tuanya untuk terus belajar dengan semangat. Dan sejak malam itu, ia terus semangat belajar dan bersekolah dengan rajin. Setiap pagi ia selalu berjalan kaki hampir 5 km menuju sekolahnya. Sepatunya berkali -kali dijahit, seragamnya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Ketika duduk di kelas, teman-teman Dinda selalu mengejeknya tanpa henti.
“Buat apa kamu tetap belajar dan bersekolah, miskin. Orang miskin, ya, selamanya tetap miskin!” ejek teman-teman kelasnya itu.
Dinda hanya tersenyum, karena ia tahu bahwa membalas hinaan dengan prestasi gemilang jauh lebih berarti dibandingkan membalas dengan kata-kata. Dan malam demi malam, saat listrik mulai padam, Dinda selalu belajar ditemani cahaya lampu minyak dari botol dan sumbu. Asapnya membuat mata perih ,tetapi ia tetap semangat membuka setiap buku-buku pinjaman dari perpustakaan sekolah.
“Yok, semangat diriku, pokoknya harus semangat demi Ayah dan Ibu,” bisiknya setiap malam.
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Kerja kerasnya membawakan hasil bagi Dinda. Saat pengumuman kelulusan SMA, Dinda berhasil menjadi lulusan terbaik dan diterima di fakultas kedokteran UGM melalui jalur beasiswa hingga lulus. Namun di balik itu perjuangannya belum selesai.
Biaya kuliah memang ditanggung, akan tetapi biaya hidup tetap menjadi persoalan. Agar bisa bertahan, Dinda bekerja paruh waktu. Ia menjadi penjaga perpustakaan, mengajar les anak-anak dari mulai SD-SMA hingga ia sempat menjadi pelajar di tempat warung makan. Tubuhnya sering kelelahan bahkan pernah pingsan karena perutnya selalu kosong sejak pagi.
Tetapi di sisi lain, ayahnya semakin menua. Tenaganya sudah tak sekuat dulu lagi. Tangan yang dulu mengangkat batako dan semen kini mulai gemetar. Ibunya juga sudah mulai sakit-sakitan tetapi tetap memaksakan bekerja seperti biasanya agar bisa mengirimkan sedikit uang untuk Dinda.
Suatu malam, Dinda menelepon ibunya dan menanyakan kabarnya.
“Ibu, bagaimana keadaan di rumah, Ayah juga apa kabarnya, Bu?” tanya Dinda.
“Semua baik-baik saja, Nak. Kamu semangat ya, kuliahnya!” sahut sang Ibu berbohong, padahal yang tersisa hanyalah segenggam beras putih. Karena ia tidak ingin membuat anaknya itu cemas, dan terus fokus belajar.
Dinda mengetahui kenyataan itu dari tetangganya. Malam itu ia menangis sejadi-jadinya karena ia merasa begitu jauh saat kedua orang tuanya sedang berjuang untuk bertahan hidup.
“Ayah, Ibu, tunggu aku sukses, ya, aku akan menghapuskan setiap air mata kalian itu menjadi kebahagiaan,” gumam Dinda.
Bertahun-tahun kemudian, penantian yang ditunggu-tunggu akhirnya telah tiba. Dinda lulus sarjana dengan gelar terbaik di kampus dan resmi dilantik sebagai dokter dengan jas putih yang melekat di tubuhnya. Ia berdiri di atas panggung sambil mencari dua wajah yang ia cintai.
Ayah dan ibunya datang dengan pakaian sederhana, bahkan sandal yang mereka gunakan terlihat usang. Tetapi di mata Dinda, di ruangan gedung universitas itu, mereka adalah orang yang paling begitu mulia di kehidupannya. Ia turun dari panggung, menghampiri kedua orang tuanya tanpa mempedulikan ratusan orang yang melihatnya dan ia langsung memakaikan toga juga baju kebanggaan itu kepada orang tuanya dan berlutut di hadapannya.
“Ibu, Ayah … jas putih dan toga ini semuanya bukan milik Dinda,ini adalah milik Ayah yang rela tubuhnya lelah setiap hari, ini adalah milik Ibu yang sering menahan lapar demi Dinda agar terus bisa bersekolah,” ujarnya penuh tangisan.
Beberapa tahun kemudian, rumah gubuk dengan atap yang telah bocor di mana-mana dan hampir roboh, kini telah telah berganti menjadi sebuah rumah yang kokoh dan nyaman layak untuk ditempati seperti orang-orang lainnya. Ayahnya tidak perlu lagi mengangkat beban di tengah teriknya matahari dan ibunya tak lagi mencuci pakaian orang lain hingga tangannya pecah-pecah menjadi kasar.
Kini, mereka menikmati hari tua dengan penuh kebahagiaan dan Dinda pun selalu menolong orang-orang desa yang sedang kesakitan juga kesusahan karena ia telah mengalami bagaimana sulitnya menjalani kehidupan ini.

