Oleh: Muhammad Faiq Elfaruq

Kala riuh dunia melontarkan aksara yang menyayat
Menikam sunyi mencari celah pada dinding kalbu
Sang Jiwa memilih gaduh menjadi selembar hening
Tetap tegak di atas poros takdir
Enggan goyah digulung badai

Biarkan mereka mengeja langkahmu dengan prasangka
Sebab ia mulut yang hanya tahu memandang permukaan tak menyalami kedalaman

Namun bagi Sang Pengelana Sunyi setiap kerikil tajam yang dilemparkan
Adalah serpihan cermin jernih untuk mematangkan rahasia diri
Menempa sabar menjadi jubah paling megah yang melindungi dada