Oleh: Erik Juliawan, S.Sos

Hujan senantiasa tiba tanpa permohonan. Ia menimpa bumi, memecah keheningan, kemudian pergi menyisakan bau tanah yang membuat siapa pun ingin mengenang sesuatu. Demikian juga dengan hidupku. Ia datang dengan impian, cinta, kehilangan, dan pelajaran yang tak pernah ku kehendaki sebelumnya.

Namaku Azka, seorang pria 24 tahun yang terus berusaha mencari jati dirinya melalui hal-hal sederhana, walau selalu di gagalkan soal cinta tetapi tidak membuat ia menyerah apalagi terus berlama-lama dalam keterpurukan hingga lupa akan masa depannya.

Jika ada yang menanyakan hal apa yang paling sering mengalami kegagalan dalam hidupku, mungkin aku akan menjawab dengan sederhana, “cinta.”

Namun jika ditanya apa yang paling sering pula bangkit setelah terjatuh, jawabannya juga tentu tidak berbeda yaitu, “diriku sendiri.”

Aku pernah mencintai seseorang dengan keyakinan bahwa cinta bisa mengatasi segalanya. Aku yakin bahwa jika dua hati saling memilih, maka takdir akan memberikan jalan.

Namun kenyataannya, dunia memiliki pandangan yang berbeda.

Cinta pertamaku berakhir akibat situasi yang ada. Kami berdua dalam keadaan kurang beruntung, sama-sama berjuang, namun hidup memilih untuk menguji kami dengan cara yang berbeda.

Dia memilih jalan yang lebih aman, sementara aku memilih untuk setia pada impian yang bahkan belum tampak. Saat dia pergi, aku tidak merasakannya dengan kebencian, yang aku benci hanyalah fakta bahwa kadang usaha tidaklah cukup tanpa ada pembuktian.

Aku bangkit lagi.

Aku mengambil pelajaran.

Aku berusaha.

Aku mengumpulkan uang.

Aku menyusun impian sedikit demi sedikit.

Lalu aku mendapati cinta kedua, kali ini aku lebih matang. Harapanku tidak berlebihan, aku berusaha jadi pria yang layak untuk dicintai. Aku berupaya lebih keras, memperbaiki diri, belajar untuk menghargai setiap waktu, dan menjaga diri agar bisa menjadi sandaran.

Namun sekali lagi, alam semesta memiliki pendapat lain. Ia mengatakan bahwa aku terlalu terfokus pada impian masa depan sampai lupa untuk menikmati saat ini.

Ia sudah lelah menunggu seseorang yang selalu berkata, “nanti jika aku berhasil.”

Ternyata, kalimat itu terlalu panjang untuk ditunggu.

Ia pergi.

Aku kembali sendiri.

Malam itu aku menatap langit, dan berkata dalam hati “berapa kali lagi yang harus kutunggu?”

Langit tetap diam. Ia hanya menurunkan air hujan. Sejak saat itu, aku mulai menyadari sesuatu.

Terkadang kehilangan bukanlah sebuah bentuk hukuman melainkan cara untuk menciptakan ruang bagi sesuatu yang lebih besar dan barangkali ini juga bagian dari menyelamatkan kita dari sebuah ancaman.

Aku terus berusaha meraih impian.

Pagi hariku diisi dengan pekerjaan.

Siang hariku dipenuhi dengan usaha.

Malam hariku dipenuhi dengan doa.

Dan dini hari menjadi saksi bagi air mata yang tak seorang pun ketahui.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorakan.

Hanya suara detak jam dinding yang terus berlanjut, seolah mengatakan bahwa waktu tidak peduli jika aku sedang bahagia atau hancur.

Aku pernah merasakan kelelahan yang luar biasa.

Kelelahan menyaksikan sahabat-sahabatku berikrar janji suci.

Kelelahan melihat mereka meraih kesuksesan.

Kelelahan melihat orang lain memperoleh kebahagiaan lebih cepat.

Sementara aku masih berjuang.

Masih terpuruk.

Masih bangkit kembali.

Masih berjuang dan terus berjuang lagi.

Lalu muncul cinta yang ketiga.

Aku tersenyum.

Mungkin kali ini Tuhan berpesan, “cukuplah sudah.”

Aku meyakini.

Aku membuka hatiku sekali lagi.

Aku memberikan kepercayaanku kembali.

Aku kembali bermimpi tentang sebuah rumah yang sederhana, secangkir kopi di tiap pagi, tawa anak-anak, dan wanita yang menantiku di rumah.

Namun mimpi itu kembali hancur.