Kali ini bukan karena situasi.

Bukan karena masalah keuangan.

Bukan karena waktu yang tidak tepat.

Namun karena hati memang tidak dapat dipaksa untuk memilih.

Aku ditinggalkan tanpa pertikaian. Tanpa alasan yang mampu menyembuhkan.

Hanya sebuah kalimat singkat “maaf.” aku sudah tidak merasakan hal yang sama lagi.

Sesederhana itu. Namun kedalaman rasa sakitnya seolah mampu menghancurkan bertahun-tahun harapan.

Aku mulai merefleksikan diriku sendiri, seraya berkata “apakah aku tidak cukup baik untuk seseorang? apakah aku terlalu berambisi dalam mengejar impian? apakah aku tidak pantas untuk dicintai?”

Setiap pertanyaan menjadi sebuah luka. Setiap luka menjelma menjadi keraguan, dan keraguan secara perlahan mengikis keberanian. Aku hampir terjatuh dalam keputusasaan. Bukan dalam hal cinta, melainkan dalam menjalani kehidupan.

Namun suatu pagi aku melihat seorang petugas kebersihan yang menyapu jalan sambil tersenyum dengan ketenangan yang luar biasa.

Aku merenung di dalam hati “mengapa dia bisa tersenyum?”padahal mungkin beban hidupnya jauh lebih sulit dibandingkan hidupku.

Di saat itulah aku menyadari, bahwa kebahagiaan bukanlah suatu anugerah bagi mereka yang menjalani hidup dengan mudah. Kebahagiaan adalah pilihan bagi mereka yang terus melangkah meskipun hidup tidak selalu bersahabat.

Hari-hari selanjutnya ku jalani dengan pendekatan yang baru.

Aku tidak lagi mencari cinta.

Aku fokus pada menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.

Aku semakin banyak membaca buku.

Aku meningkatkan keterampilan yang ku punya.

Aku berusaha untuk memberikan bantuan kepada orang lain.

Aku memahami bahwa kesuksesan bukanlah untuk menunjukkan kepada orang yang pernah pergi dari hidup kita.

Kesuksesan adalah anugerah bagi diri sendiri yang tidak pernah berhenti berjuang.

Tahun-tahun terus berlalu, usahaku mulai memperoleh hasil yang nyata. Aku mendapatkan pekerjaan yang sebelumnya hanya bisa ku lukiskan dalam buku impian.

Orang tuaku kini sering tersenyum. Rumah yang sebelumnya bocor saat hujan kini telah mendapatkan atap yang baru. Ibuku tidak lagi perlu menghitung uang sebelum berangkat ke pasar. Ayahku kini bisa beristirahat tanpa memikirkan pinjaman yang ada.

Di ruang tamu yang sederhana itu, aku meneteskan air mata. Bukan karena rasa duka.

Namun, pada akhirnya aku menyadari inilah mengapa alasan Tuhan sering kali merusak hubungan asmaraku. Barangkali jika aku terlalu fokus pada usaha untuk menjaga seseorang, aku tidak akan punya energi untuk berjuang bagi mereka yang selalu ada untukku sejak awal.

Pada suatu sore, aku melintasi jalan yang dulu sering aku lalui dengan orang-orang yang pernah aku cintai. Rasa marah sudah sirna, penyesalan pun sudah tidak ada lagi, yang ada sekarang hanya rasa syukur. Karena setiap orang yang pergi ternyata membawa pelajaran berharga.

Yang pertama mengingatkan bahwa cinta tidak selalu abadi.

Yang kedua mengajarkan bahwa untuk mewujudkan mimpi diperlukan keberanian, tekad dan pengorbanan yang kuat.

Yang ketiga tidak semua yang kita usahakan harus kita nikmati hasilnya hari ini. Dan kehidupan mengajarkanku satu pelajaran yang jauh lebih dalam, bahwa seseorang boleh mengalami kegagalan dalam cinta berkali-kali, tetapi jangan pernah sekalipun gagal untuk mencintai dirinya sendiri.

Jika sekarang, saat ada yang bertanya kepadaku, “berapa kali kamu mengalami kegagalan dalam cinta?”

Aku akan membalas dengan senyum, dan berkata

“Sebanyak yang Tuhan perlukan untuk membentukku menjadi manusia yang lebih kuat.”

Lalu mereka bertanya lagi.

“Apakah kamu tidak lelah?”

Aku menatap langit senja.

“Jelas lelah, tapi cita-citaku lebih keras kepala daripada rasa putus asaku hanya karena cinta.”

Aku percaya bahwa setiap air mata yang jatuh diam-diam sedang menyiram pohon harapan.

Mungkin hari ini belum berbunga.

Mungkin besok pun belum.

Namun suatu hari nanti, ketika semua perjuangan itu berbuah, aku akan menoleh ke belakang dan tersenyum.

Aku akan menghargai setiap kegagalan yang datang kepada setiap jiwa yang pernah meninggalkanku.
Kepada setiap malam yang dipenuhi dengan kesedihan karena tanpa semua itu, aku tidak akan menjadi aku yang sekarang ini.

Dan jika cinta datang lagi di masa depan, aku tidak ingin menyambutnya sebagai sosok yang membutuhkan pertolongan.

Aku ingin menyambutnya sebagai seseorang yang telah berdamai dengan luka, telah menerima kegagalan, dan telah membangun impiannya sendiri. Karena akhirnya aku memahami, cinta yang paling setia bukanlah cinta yang muncul paling awal.

Melainkan kasih yang muncul setelah kita menuntaskan perjuangan untuk diri sendiri. Karena sesungguhnya, bukan frekuensi kegagalan kita dalam cinta yang menjadi penentu perjalanan hidup.

Tetapi seberapa sering kita memutuskan untuk bangkit kembali setelah hati kita hancur. Dan selama kita masih bernafas, impian akan selalu punya alasan untuk dikejar, meskipun langkah terasa berat, meskipun hati kita telah hancur berkali-kali.

Karena cita-cita tidak pernah peduli seberapa sering kita jatuh. Ia hanya menunggu satu pertanyaan, “apakah kita masih punya keberanian untuk melangkah?