Malam itu, aku harus menjadi dirandra. Mengikis rasa takut kesendirian. Lebih fokus pada harsa yang menaungi rasa. Ibarat arutala yang terlihat gagah memancarkan cahaya pada malam-malam mencekam. Meski hanya temaram.

Belum sehari, lagu yang selalu mengingatkanku kala dirimu membangunkan lelapnya tidur, menjadi yang kukenang. Indahnya alunan syair beriring sang sandyakala muncul, menyejukkan hati yang baru saja sedikit hampa. Takkan kubiar hampa berlanjut. Masih banyak jalan untuk menenangkan hati.

Rasa itu bagai niskala. Tak berwujud namun berasa. Menyertai segala kegiatan. Mengusik jiwa, melenturkan semangat. Sedikit lebay bahkan terkesan kekanak-kanakan. Namun, begitulah rasa. Niskala yang mampu menggoyahkan senandung keluguan jiwa, hingga aku tiba-tiba menjadi dirandra. Berperang dengan kesunyian, menunggu kidung cinta itu muncul kembali untuk menghardik keenggananku.

Baca Juga  Pagar Langit

Belum sehari, mulutku tak lagi berteriak mengingatkan waktu bersujud telah tiba. Kini lagu yang sering kudengar itulah menjadi pengingat dirimu untuk delapan hari ke depan.

Fajar Indah, 24 Januari 2024