Sepanjang perjalanan menuju tujuan, celoteh riang orang-orang yang ikut bersama, kemudian mendengarkan wejangan, membuat tubuh dehidrasi berat. Pun sepanjang perjalanan arah kembali pulang, celotehan tentangmu menghangatkan perbincangan. Aku hanya ingat dirimu saja. Menyedihkan bukan. Kala itu, hari kedua engkau meninggalkanku sendiri beraktivitas.

Kepenatan menyambutku sampai di gubuk kita, setelah perjalanan jauh berkendara. Aku ingin lekas menanti sang sandyakala. Mengistirahatkan sejenak badan yang penat dimakan usia. Mendengarkan kidung cinta menggema dari toa masjid dekat rumah. Teringat saat dirimu yang gegas menghampiri suara kidung cinta itu, bersama dengan mereka yang setujuan.

Lagi-lagi dirimu yang kuingat saat menanti sang sandyakala. Malam itu, aku kembali menjadi dirandra. Menyingkirkan bayang tak berupa dan menggantikannya dengan ketikan jemari di atas keyboard laptop. Hingga aku tak kuat untuk membuka mata, terlelap dalam mimpi indah.

Baca Juga  Pantun Lebaran Idulfitri (Bagian III): Cikar di Ari Rayo

Sang dirandra ini akan menjadi upeksa, demi menanti hadirmu lagi. Aku tak kuat berterusan dengan bayanganmu.

Fajar Indah, 24 Januari 2024.