Karya: Zomi

Aku tidak tahu sejak kapan tubuhku mengambang di aliran air yang seakan tak berujung ini–yang  aku tahu–waktu itu aku dan teman-temanku sedang tenggelam dalam suatu obrolan di tiang gantungan.

Kini aku benar-benar akan tenggelam, perlahan-lahan, hanya patuh pada arus dingin yang membawa tubuh telanjangku. Kulit demi kulit pada tubuhku mulai rapuh. Menandakan bahwa aku akan habis dimakan waktu.

Waktu yang lama itu akhirnya tiba. Tak kusangka ternyata lebih lama dibandingkan rasa bosan yang menyerangku ketika harus mendengarkan PETE selesai berceloteh–menyombongkan diri dan rasnya tentang bentuk tubuh dan pakaian mereka yang beragam dan banyak disukai orang-orang.

Lekuk tubuh yang menggoda, dibungkus dengan pakaian yang modis aneka warna, sudah tentu akan dilirik untuk memuaskan dahaga. Kini pakaian itu sudah tak berguna, karena pada akhirnya tubuh kami akan dibuang, telanjang dimakan air.

Baca Juga  Merangkai Pembenaran

Di sepanjang jalan air ini, beragam jenis pakaian mengapung mengotori pemandangan, baik pakaian yang modis maupun yang biasa saja, semuanya sama saja: hanya barang bekas yang tak berharga. Tak jauh dari pakaian kumal itu, beragam tubuh dingin berserakan hampir menutupi seluruh jalan.

Di antara tubuh kaku itu, kulihat mayat ras PETE juga ikut mengapung di sepanjang lorong air. Jumlah mereka mendominasi mayat-mayat yang kini hanya sampah tak berguna. Melihat itu membuatku sedikit puas. Setidaknya, tubuh-tubuh beku mereka bisa sedikit menghiburku, meski aku sendiri  masih terombang-ambing dan hanya pasrah pada nasib yang akan aku temui.

Tak ada salahnya mencari hiburan di tengah situasi suram begini. Lagipula, kami semua akan berakhir dan menanggung nasib yang sama: dibuang ketika sudah sekali pakai.

Tubuhku dibawa semakin jauh mengikuti aliran air. Kurasakan tubuhku bergesekan dengan tanah lembek yang memenuhi setiap jengkal jalan. Di daerah ini, bau busuk mulai muncul dari bawah sana. Bau itu dibawa gelembung udara yang akan meletup di permukaan air.

Baca Juga  Surya Candra

Gelembung udara itu juga meledakkan bau pada segerombolan tubuh terbengkalai yang tergeletak di sepanjang lantai air. Sebagian tubuh itu tersangkut di akar tanaman yang menyembul dari tanah lembek, sebagian yang lain hanya pasrah mengikuti arus sepertiku. Bagaimanapun, tersangkut atau tidak, tubuh kami sama-sama ikut menyumbang bau busuk yang akan menyumbat hidung siapapun yang menghirup udara di sekitar sini.

Perihal bau, lagi-lagi PETE akan menjadi pribadi yang paling menyebalkan. Sebab, dia tak ragu untuk memotong pembicaraan siapa saja demi membanggakan aroma tubuhnya yang bervariasi.

Si PP yang waktu itu sedang bercerita tentang aromanya yang bisa bikin orang kenyang harus bungkam karena PETE yang tiba-tiba mulai bercerita tentang aromanya yang menyegarkan hidung dan lidah.

Baca Juga  Rika dan Kue Ulang Tahun

Rasanya ingin aku memuntahkan isi perutku saat melihat muka jemawa PETE waktu itu, meski tidak ada apapun di perutku yang kosong ini. Si PS juga bernasib sama dengan si PP. Tak kebagian bercerita karena PETE tak akan pernah selesai mencerocos tentang apapun yang dia miliki.

Aliran air mulai menambah kecepatannya, membawa tubuhku ke tempat yang entah. Kurasakan tubuhku menyenggol sesuatu yang membuatku sempat tersangkut. PETE. Kali ini bukan hanya sekadar ras PETE. Tapi PETE yang itu–yang membual pada kami tentang dirinya.

Tubuhnya kosong, baju kebanggaannya raib, artinya dia sudah habis dipakai. Baunya lebih busuk dari tubuh manapun di sekitar jalur air cokelat ini. Dia sudah tak bergerak, tubuhnya membeku, dia tersangkut pada batu. Tergeletak begitu saja. Kulihat beberapa orang lalu-lalang.