Tampaknya mereka tak melihat kami. Lagipula, semua tubuh yang terapung di sini juga bernasib sama dengan PETE. Sekali kami dibuang, hampir tak ada yang sudi memungut tubuh kami.

Aliran yang lebih deras terus membawa tubuhku pergi. Sepertinya aku sudah terbebas dari tanah lembek bau bangkai itu. Di sini, hanya ada air cokelat tua saja. Tubuhku masih hanyut. Dari kejauhan, mulai terlihat pemandangan yang yang lebih suram.  Aku melihat potongan tubuh rasku.

Jumlah mereka banyak sekali. Hanya rasku saja tampaknya. Entahlah, aku tak bisa memastikannya. Tubuh mereka hampir menyelimuti seluruh permukaan air, berhasil memberi warna baru pada air cokelat yang muram. Kali ini aku menertawakan mereka. Pantas saja di sepanjang jalan tadi aku hanya sedikit menemui tubuh rasku. Tubuh kami yang ringan tentu akan lebih cepat sampai ke sini.

Sepanjang jalan aku hanyut, dari tadi aku hanya melewati perasaan suram yang lebih dalam. Tapi tubuhku tak kunjung tenggelam juga, hanya terapung saja. Waktu, aku mohon cepatlah kau habiskan aku.

Baca Juga  Batavia dalam Bingkai Waktu

Air, cerna aku ke dalam perutmu. Tak perlu kau kunyah lama-lama tubuhku yang sedari tadi sudah rapuh dan terkelupas pelan. Langsung kau telan saja aku.

Kini, sudah sulit aku meraba ingatan tentang obrolan waktu itu. Lagipula tak ada gunanya aku melakukannya demi menjaga kesadaranku. Sekarang aku hanya ingin cepat menemui jalur terakhir seperti tubuh-tubuh kaku yang aku temui di sepanjang air membawaku tadi.

Aku tak ingin menyaksikan apapun lagi. Aku terpejam. Gelap. Sunyi. Sepi. Sepertinya hal ini lebih cerah daripada harus melihat hal suram lainnya.

Tubuhku masih hanyut meski aku memutuskan untuk tidak mau melihat sekeliling. Aku memutuskan untuk mengamati sekitar, aku ingin menyaksikannya lagi, setidaknya aku ingin tau nasib tubuhku. Di sini, aliran makin deras. Rasa airnya mulai berubah, begitulah warnanya.

Barangkali lebih cerah atau mungkin juga lebih gelap, aku tak bisa membedakannya. Penglihatanku mulai keruh sebagaimana air yang menutupi tubuhku. Suhu juga rasanya makin meningkat. Kini lantai air dipenuhi kerikil-kerikil pasir yang melukai kulitku yang rapuh. Kulitku terkelupas semakin banyak, agaknya warna tubuhku kini kian bening.

Baca Juga  Perempuan yang Dirindukan Surga

Tubuhku kini tersendat di tumpukan pasir. Sepertinyanya aku sudah mendekati ujung. Lorong air yang kukira tak berujung, kini membuat tubuhku tersangkut. Tersangkut dan terus terluka lebih tepatnya. Sial. Kerikil pasir ini tajam juga rupanya, atau barangkali tubuhku saja yang tak sekuat dulu.

Aliran air terus mendorong tubuhku menerobos pasir. Aku hanya pasrah karena tak ada kuasa juga untuk melawan. Hanya tunduk pada arus, seperti yang kukatakan sebelumnya. Pasir dan air kini saling beradu, keduanya seakan tak mau menerima tubuhku. Air menang pada akhirnya, sedari tadi dia yang membawa tubuhku menuju perjalanan jauh ini. Sudah tentu dia yang paling tidak menginginkan aku.

Tubuhku kembali pada jalur air. Tapi jalur itu rasanya makin meluas. Tampaknya gundukan pasir tadi adalah gerbang menuju jalan yang makin samar. Panas menyengat tubuhku yang kini dibawa gelombang. Gelombang air di sini ternyata lebih kejam dari aliran di jalan air tadi.

Baca Juga  Serial Drakula Zaman Now: Juwi Ungkapkan Rahasia

Gelombang yang mengombang-ambing tubuhku ini sanggup membuatku mencium karang. Nasibku sebentang lautan. Mengerikan karena aku tak tahu ke mana dia akan membawaku. Kau ingin tahu bagaimana nasibku? Akan aku ceritakan jikalau kesadaranku masih menyala. Untuk saat ini, beginilah nasibku. Nasib sebagai LDPE (Low Density Polyethylene). Mungkin nama ini asing bagimu, tapi kau sering menemuiku. Kau menyebutku kantong kresek.

Zomi, seorang lulusan kimia yang sedang belajar menulis cerpen dan puisi. Karya puisinya yang  berjudul Mata Kail dan Tubuh Laut yang Terluka terbit di Babel Pos (2023). Dia juga menjadi salah satu pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan cerita berjudul Harta Karun dalam Lemari (2023). Zomi bisa dihubungi melalui instagram @zomione.