KESEHATAN, TIMELINES.ID– Mulut pahit merupakan kondisi umum yang terjadi apabila Anda sedang sakit. Kondisi inilah yang menyebabkan nafsu makan Anda menurun sehingga memperparah sakit yang sedang alami.

Tapi jangan salah, kondisi ini nyatanya tidak selalu disebabkan oleh sakit, lho! Ada banyak hal yang bisa memicu munculnya kondisi tersebut. Lalu, apa saja penyebab dan bagaimana cara mengatasi mulut pahit?

Berbagai Penyebab Mulut Terasa Pahit

Berikut adalah masing-masing penjelasan mengenai beberapa hal atau kondisi yang dapat menyebabkan mulut terasa pahit.

1. Mulut Kering

Penyebab mulut terasa pahit yang pertama adalah mulut kering (xerostomia). Kondisi ini terjadi karena kelenjar air liur (saliva) tidak memproduksi air liur dalam jumlah yang cukup.

Baca Juga  Hadiah Akhir Tahun, RSUD Depati Hamzah Paripurna

Selain itu, proses penuaan, gangguan autoimun, serta kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol juga dapat meningkatkan risiko mulut kering.

2. Penumpukan Bakteri

Mulut pahit juga bisa disebabkan oleh penumpukan bakteri di dalam mulut. Biasanya, kondisi ini terjadi jika kebersihan gigi dan rongga mulut kurang terjaga dan akan semakin parah apabila memiliki gigi berlubang.

Selain rasa pahit pada mulut, penumpukan bakteri tersebut juga bisa memicu bau mulut, radang gusi (gingivitis), serta infeksi pada mulut dan gigi (gingivostomatitis).

3. Dysgeusia

Penyebab mulut terasa pahit lainnya adalah dysgeusia, yaitu gangguan pada mulut yang membuat penderitanya merasakan sensasi rasa asam, pahit, tengik, asin, atau seperti sedang menyentuh logam di lidahnya.

Baca Juga  Cara Menurunkan Darah Tinggi untuk Mengatasi Masalah Kesehatan

Pada kondisi yang parah, dysgeusia juga dapat menyebabkan munculnya gejala mulut berbau busuk.

4. Kehamilan

Mulut pahit juga menjadi salah satu masalah yang sering dialami oleh ibu hamil. Pasalnya, hal ini dipengaruhi oleh fluktuasi hormon estrogen yang memengaruhi indra pengecap.

Kondisi ini umumnya hanya bersifat sementara dan akan menghilang dengan sendirinya (biasanya hanya dialami selama trimester pertama kehamilan).