BANGKA, TIMELINES.ID — Malang bagi N (46), wanita beranak 4 ini, mencari keadilan untuk anaknya yang menjadi korban dugaan pencabulan di salah satu pondok pesantren di Sungailiat.

Kepada timelines.id Senin (12/2/2024) N menceritakan terkuaknya nasib yang dialami anak laki-lakinya sebut saja Kumbang (12) bukan nama sebenarnya, yang sejak tahun 2022 hingga September 2023 lalu.

Awalnya pada 13 Oktober 2023, N mendapat jadwal kunjungan orang tua ke Pondok Pesantren yang berada di Kecamatan Sungailiat.

Rasa suka cita pun dirasakan N karena tibalah waktunya untuk mengunjungi sang buah hati setelah lama tak bersua.

“Saat bertemu anak saya. Dia menyelipkan kertas di dalam tas saya. Katanya saya disuruh baca di rumah,” cerita N warga Kecamatan Pemali ini.

Saat membuka surat, hati N merasa hancur. Di dalam surat tersebut Kumbang menceritakan nasib yang ia alami di dalam pondok pesantren tersebut selama kurun waktu 1 tahun sebagai korban pencabulan yang diduga dilakukan seorang santri di ponpes yang sama.

“Anak saya sering di-bully anak dukun lah. Dan si pelaku ini kerap melakukan aksi pelecehan hingga pencabulan terhadap anak saya, saat anak saya sedang terlelap tidur,” jelasnya.

Pelecehan di dalam kamar pada malam hingga subuh hari.

“Ada 6 kali aksi pelecehan yang dialami anak saya hingga pada bulan September 2023 itu kejadian yang paling parah,” lanjut wanita bercadar ini.

Bagaikan tersambar petir, N pun mendatangi pengurus pondok pesantren tersebut untuk menyampaikan apa yang dilaporkan Kumbang kepada dirinya.

Sore hari N bersama suaminya kembali menemui anaknya. Namun saat itu menurut N, anaknya sudah tak mau lagi bercerita dan seperti ketakutan.

Pengakuan N setelah bertemu dengan pengurus pondok bahwa permasalahan ini sudah selesai. Bahkan N dan suami serta anaknya dilarang untuk menceritakan permasalahan ini keluar.

N diminta tidak menceritakan ke orang orang terdekat dengan alasan akan merusak mental dan mengancam nyawa anaknya yang akan milih jalur nekat seperti bunuh diri.

“Saya takut kalau anak saya sampai kenapa kenapa. Saya membutuhkan pendamping seorang Psikolog untuk anak saya. Tapi katanya ini akan mengancam nyawa anak saya akan berakhir bunuh diri, ” cerita N.

Kumbang pun dibawa pulang ke rumah. N sudah merasakan kejanggalan terhadap anaknya dari sikap yang aneh. Menurut N, Kumbang adalah sosok anak yang ceria dan sering bermain dengan saudara saudaranya yang lain.

Tapi semenjak 6 bulan terakhir Kumbang menjadi tertutup dan kerap menyendiri ketika diajak kumpul keluarga di saat libur.