Mengenal Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk, Simak Penjelasannya
Seperti yang telah dijelaskan, ciri-ciri utama stunting adalah gangguan tumbuh kembang, ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek atau tidak sesuai dengan standar tinggi badan anak seusianya. Gejala tersebut biasanya mulai terlihat saat anak berusia 2 tahun.
Sedangkan, gizi buruk dapat menimbulkan gejala yang lebih luas, namun utamanya adalah anak tampak sangat kurus. Saat dipetakan dalam kurva pertumbuhan anak, berat badan menurut panjang atau tinggi badannya lebih rendah jika dibandingkan dengan anak seusianya, atau ukuran lingkar lengan atas (LiLA) cenderung kecil.
Selain itu, gejala lain yang kerap dialami oleh anak dengan gizi buruk adalah kulit kering, rambut tipis, rentan terserang penyakit, perut tampak buncit, dan gangguan tumbuh kembang.
4. Dampak Stunting dan Gizi Buruk
Stunting yang tidak mendapatkan penanganan sesegera mungkin dapat menyebabkan anak mengalami gagal tumbuh. Stunting sebagian besar bersifat irreversible atau permanen, di mana anak tidak bisa memperoleh kembali tinggi badan normal.
Selain itu, anak-anak yang mengalami stunting juga lebih rentan terserang penyakit, kehilangan kesempatan untuk belajar, memiliki prestasi sekolah yang kurang baik, serta tumbuh menjadi kelompok individu yang tidak mampu secara ekonomi.
Di sisi lain, apabila tidak segera ditangani dengan tepat, gizi buruk berisiko menyebabkan gangguan tumbuh kembang, gangguan fungsi kognitif, dehidrasi berat, hipotermia, anemia, terserang penyakit infeksi berat, hingga kematian (pada kasus yang lebih parah).
Perlu diketahui, anak yang menderita severe wasting berisiko 3 kali lebih tinggi mengalami stunting. Sementara itu, anak stunting berisiko 1,5 kali lebih tinggi mengalami severe wasting dibandingkan dengan anak yang mempunyai gizi baik. Risiko kematian akan meningkat jika anak mengalami dua permasalahan gizi ini (severe wasting dan stunting) secara bersamaan.
5. Pencegahan Stunting dan Gizi Buruk
Pencegahan gizi buruk dapat dilakukan dengan memberikan asupan makanan sehat dan bergizi seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh anak. Selain itu, orang tua juga perlu segera membawa si kecil untuk berkonsultasi dengan dokter apabila menderita penyakit infeksi tertentu.
Sementara itu, pencegahan stunting utamanya dilakukan dengan memenuhi asupan gizi anak terutama selama 1000 hari pertama kehidupan (mulai dari masa awal kehamilan sampai anak berusia 2 tahun). Sebelum masa kehamilan, ibu sudah harus mempersiapkan diri sebaik mungkin dan memberikan perhatian lebih pada nutrisi ibu untuk janin.
Ibu juga dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan guna membantu memenuhi kebutuhan gizinya pada usia tersebut. Setelah periode pemberian ASI eksklusif selesai, pemberian MPASI pun harus diperhatikan kandungan nutrisinya.
Selain nutrisi, penting pula untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan di rumah. Pastikan untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan untuk menghindari risiko anak terkena infeksi. Jangan lupa untuk rutin ke posyandu atau ke dokter spesialis anak guna memantau pertumbuhan dan perkembangan si kecil.
Hal ini dilakukan agar bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat apabila ditemukan kelainan atau keterlambatan pertumbuhan pada anak. Pada dasarnya, baik stunting maupun gizi buruk dapat dicegah dengan memberikan asupan gizi yang seimbang pada si kecil.
(Dilansir dari Siloamhospitals.com)
