“Jadi ada aturan main, ada permenkes kapan harus dilakukan fogging. Tetapi terkadang masyarakat, berulang-ulang sudah sering kita sampaikan tetap tak sadar juga jika betapa tidak pentingnya fogging ini. Walaupun bukan berarti tak bisa dimanfaatkan, fogging,” katanya.

Rangkuti selalu menyampaikan hindari fogging. Pertama itu racun. Jika hidung menghisap pasti berpengaruh kepada kesehatan. Sebab, fogging ialah racun yang dicampurkan dengan solar. Diolah sedemikian rupa oleh mesin dan kemudian mengeluarkan asap.

“Itu sifatnya sesaat bagaimana dengan besok dan seterusnya. Apakah setiap hari kita lakukan fogging, tentu tidak. Apalagi biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit, sangat mahal, berjuta-juta sekali fogging untuk satu desa,” ungkap Muhammad Sapi’i Rangkuti.

Baca Juga  Petani di Bangka Barat Tidak akan Lagi Kesulitan Jual Hasil Pertanian, Ini Alasannya

“Ngapain kita fogging kalau kemudian terkontaminasi racun. Saya lihat tidak ada nyamuk yang pingsan apalagi mati kan. Satu lagi, fogging dilakukan sesuai aturan ketika sudah ada kasus. Bukan suatu hal yang utama dan keharusan tetapi dilakukan ketika membutuhkan tindakan tertentu,” jelasnya.