Ternyata RRI Sungailiat dulu adalah media dengan nara sumber terbanyaknya justru yang berasal dari kalangan bawah. Rakyat jelata. Mereka ini berasal dari tukang sayur, ibu rumah tangga, nelayan, buruh tambang, pelajar, sopir angkot, bahkan pengangguran. Profesi apa saja dan siapa saja ternyata bisa menjadi nara sumber.

Tinggal kepiawaian dan kreatifitas para reporternya saja yang diperlukan buat meracik beritanya sehingga menjadi menarik. Hebatnya lagi berita-berita seperti itu yang diproduksi oleh dari RRI Sungailiat tersebut ternyata dikirim ke RRI pusat dan disiarkan pula secara nasional.

Tak jarang beritanya tayang di jam yang paling diminati masyarakat. Berita nasional Jam 7 pagi. Dampak prestasinya tadi sang wartawan RRI Sungailiat tersebut mendapat ganjaran. Dikirim ke Mekah untuk meliput peristiwa penting pelaksanaan ibadah haji. Tentu sekalian melaksanakan ibadah haji. Gratis.

Dengan gaya pemberitaan seperti itu maka seringkali masyarakat di Bangka Belitung yang jadi sumber berita terkaget- kaget karena suaranya ternyata bisa didengar oleh orang se-tanah air.

Baca Juga  Hari Kesaktian Pancasila dan Maknanya bagi Dunia Pendidikan

Saran dan masukan masyarakat di pasar misalnya bisa diperdengarkan dan digaungkan bukan saja ke telinga para pejabat di daerah, tetapi sampai ke telinga para pejabat di Jakarta pengambil keputusan di republik ini. Yang lebih penting lagi. RRI kemudian menjadi lebih terasa dimiliki oleh masyarakat.

Tapi itu masa lalu. Sekarang setiap orang bisa jadi pewarta. Entah itu menampilkan dirinya sendiri atau malah orang lain. Modalnya hanya memiliki akun di berbagai media sosial serta mempunyai keterampilan mengoperasionalkannya.

Bila yang dimiliki itu ditambah dengan modal lain seperti kreatifitas dan semangat serta selera yang pas maka dunia permedsosan dalam genggaman.

Tidak sedikit bahkan yang lalu jadi conten creator handal dan profesional. Pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Bahkan mengalahkan pekerja kantoran dan lulusan sarjana. Mereka pun tak mesti tinggal di perkotaan karena ternyata di zaman ini jarak bukan lagi jadi kendala. Yang penting materi yang dibagikan ke publik lewat media sosial sifatnya menarik perhatian.

Baca Juga  Mengapa Job Crafting Dilakukan?

Lalu bagaimana dengan para pejabat? Anda pasti sudah mengetahui bagaimana piawainya para pejabat dan politisi untuk urusan yang satu ini. Mereka memiliki tim khusus yang menggarap tampilan sang pejabat.

Biasanya bukan hanya di satu media sosial saja. Lihatlah bagaimana mereka beraksi dengan itu. Hasilnya ialah jumlah pengikut atau follower.

Ada enam pejabat/politisi dengan jumlah pengikut terbanyak di akun instagramnya per Maret 2023. Setahun yang lalu. Adalah Presiden Jokowi dengan jumlah 51,2 juta orang yang berada di peringkat pertama. Disusul oleh Gubernur Jawa barat Ridwan kamil dengan 20,1 juta pengikut.

Di urutan ketiga ialah Menteri Pariwisata Sandiaga Uno, sebanyak 9,1 juta pengikut. Di posisi keempat mantan gubernur DKI yang belakangan menjadi capres, Anis Baswedan dengan jumlah pengikut 5,9 juta orang di instagram. Disusul oleh Gubernur Jawa Tengah yang juga menjadi capres, Ganjar Pranowo dengan 5,5 juta orang.

Baca Juga  Menegakkan RUU ODOL Tanpa Mengorbankan Rakyat Jalanan

Zaman memang sudah berubah. Perilaku juga telah bergeser. Dulu ketika masih di awal-awal kegandrungan masyarakat dengan ponsel, ada semacam upaya untuk membatasi penggunaannya.

Di sekolah, di rumah bahkan di kantor. Sampai sekarang di beberapa lembaga pendidikan terutama, penggunaan ponsel dilarang pada waktu-waktu tertentu.

Atau setidaknya dibatasi penggunaanya. Namun lihatlah kenyataan hari ini. ASN ternyata mulai diminta lebih aktif menggunakan ponselnya. Bahkan diharuskan membuat setidaknya tiga akun media sosial serta memproduksi unggahannya masing-masing. Mari bermedsos ria.

Mungkin didorong supaya lebih mirip selebriti yang punya tag line seperti judul buku di atas: “Aku Selebriti maka Aku Penting”. Tinggal kemudian bagaimana pula lalu kepentingan rakyat diletakkan? Salam takzim.

Yan Megawandi