Sahabat Umar bin Khathab dan Godaan Menjimak Istrinya di Bulan Ramadan
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu,” (QS. al-Baqarah [2] 187).
Riwayat lain juga mengisahkan bagaimana keberatan para sahabat yang dialami oleh para sahabat pada awal pensyariatan ibadah puasa Ramadhan, seperti yang dialami oleh Qais ibn Shirmah al-Anshari. Disebutkan, pada saat berbuka, ia bertanya kepada istrinya, “Apakah engkau punya makanan?” Istrinya menjawab, “Tidak! Tapi aku akan mencarikannya untukmu.”
Rupanya, karena siang hari itu Qais ibn Shirmah lelah bekerja, matanya tak mampu menahan kantuk. Begitu pulang dan mendapati suaminya sudah tidur, istri Qais berkata, “Celakalah engkau!” Esoknya, Qais tetap berpuasa. Namun pada tengah hari, ia pingsan tak sadarkan diri. Kejadian itu pun disampaikan kepada Rasulullah saw. Maka turunlah ayat:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
Artinya, “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam,” (QS. Al-Baqarah 2]: 187).
Sejak itu, ditetapkanlah pensyariatan puasa dengan tata cara seperti sekarang ini, yakni menjauhi segala yang membatalkan, baik makan, mainum, maupun bergaul suami-istri, sejak terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari. Sedangkan pada malam hari, semua itu diperbolehkan, tanpa ada syarat: setelah atau sebelum tidur, setelah atau sebelum shalat isya. (Lihat: ah-Shaumu Junnatun, halaman 27).
Demikianlah beberapa kejadian yang menimpa para sahabat yang menjadi bagian dari tahapan dan proses kematangan pensyariatan ibadah puasa. Ini tak terlepas dari hikmah, kasih sayang, dan kelembutan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Maha benar Allah yang tak menginginkan kesulitan bagi mereka, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” Demikian dalam petikan surat al-Baqarah ayat 185. Wallahu a’lam.(Dilansir dari Kemenag.go.id)
