Wajib
Oleh: Novrianto Widiatama, S.Pd — Pengajar di SDIT Alam CAHAYA
“Jika segala sesuatu itu wajib, berarti harus kamu lakukan. Tetapi itu menonjolkan kuasa, bukan kepercayaan.”
Kalimat itu membuat saya termangu-mangu cukup lama di ruang kelas.
Apakah benar kewajiban hanya tentang kuasa?
Apakah semua yang disebut wajib hanyalah aturan yang memaksa manusia?
Jika kita renungkan lebih dalam, ternyata tidak semua kewajiban memiliki makna yang sama.
Ada kewajiban yang dibuat oleh manusia fana yang hidup seperti hujan, hidup di atas langit lalu jatuh meninggal di bawah bumi dan ada kewajiban yang ditetapkan oleh Allah. Keduanya memang sama-sama terdengar seperti kata “harus dilakukan”, tetapi sebenarnya memiliki tujuan yang sangat berbeda.
Kewajiban yang dibuat manusia biasanya lahir dari aturan sosial, sistem, atau kekuasaan.
Misalnya aturan sekolah, aturan negara, atau aturan organisasi. Jika seseorang melanggar, biasanya ada hukuman yang diberikan oleh manusia lain.
Namun kewajiban dari Allah bukan sekadar aturan yang memaksa.
Ia adalah bimbingan bagi manusia agar selamat dalam hidupnya.
Salah satu contoh kewajiban itu adalah puasa di bulan Ramadhan. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Dari ayat ini kita memahami bahwa puasa tidak diwajibkan untuk menunjukkan kekuasaan Allah semata. Tujuan utamanya adalah membentuk manusia menjadi pribadi yang bertakwa.
Lalu seperti apa orang yang bertakwa itu?
Al-Qur’an menggambarkannya dalam Surat Ali Imran ayat 134. Di antara ciri-cirinya adalah:
- Gemar Bersedekah
Orang bertakwa adalah orang yang memberi, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Kebaikan tidak menunggu kaya, tetapi lahir dari hati yang peduli.
- Menahan Amarah
Orang bertakwa bukan berarti tidak pernah marah. Namun mereka mampu mengendalikan amarahnya agar tidak melukai orang lain.
- Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Mereka mudah memaafkan, karena menyadari bahwa manusia pun tidak luput dari kesalahan.
Kewajiban yang Allah tetapkan dalam Islam sesungguhnya memiliki tujuan yang mendidik manusia, di antarnya:
Puasa
Puasa melatih manusia menahan hawa nafsu dan mengingatkan bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatan kita.
Zakat
Zakat membersihkan harta sekaligus membersihkan hati dari sifat kikir. Ia juga mengajarkan bahwa di dalam harta kita ada hak orang lain.
Kewajiban-kewajiban ini terasa semakin kuat maknanya ketika kita memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan.
Pada waktu inilah banyak muslim memperbanyak ibadah, memperbanyak doa, dan berusaha memperbaiki diri. Ramadhan seakan menjadi madrasah ruhani, tempat manusia belajar menjadi lebih baik.
