Nabi Muhammad ﷺ pernah mengingatkan:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.”
(HR. Bukhari)

Salah satu sifat Allah yang paling indah adalah Maha Pengampun.
Allah memaafkan banyak kesalahan manusia, seperti:

  • Kesalahan karena lupa
  • Kesalahan karena tidak sengaja
  • Dosa yang disertai taubat yang sungguh-sungguh

Namun ada satu dosa yang sangat berat jika tidak ditaubati, yaitu syirik, menyekutukan Allah.

Ada sebuah kisah indah dari Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menggambarkan makna takwa.

Suatu ketika, seorang kerabatnya pernah ikut menyebarkan berita yang menyakiti keluarganya. Abu Bakar sempat bersumpah tidak akan membantu orang itu lagi.

Namun kemudian turun ayat Al-Qur’an yang memerintahkan agar memaafkan dan tetap berbuat baik.

Baca Juga  Dahsyatnya Bulan Ramadhan

Setelah mendengar ayat tersebut, Abu Bakar berkata:

“Demi Allah, aku ingin Allah mengampuniku.”

Lalu beliau kembali membantu orang itu seperti sebelumnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa takwa tidak hanya terlihat dalam ibadah, tetapi juga dalam kelapangan hati untuk memaafkan.

Pada akhirnya kita memahami bahwa kewajiban dalam Islam bukanlah sekadar aturan yang memaksa manusia.

Ia adalah pendidikan bagi hati manusia.

Puasa mengajarkan kesabaran.
Zakat mengajarkan kepedulian.
Memaafkan mengajarkan kelapangan hati.

Semua kewajiban itu adalah cara Allah membentuk manusia agar menjadi pribadi yang bertakwa.

Kini kita berada di penghujung Ramadan.

Semoga segala ibadah yang kita lakukan, meskipun kecil, diterima oleh Allah.
Semoga Allah memaafkan dosa-dosa kita.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa.

Baca Juga  Peduli Palestina, SDIT Alam Cahaya Galang Dana di Pasar Toboali

Dan semoga kita bisa menutup Ramadan ini dengan amal yang terbaik.

Karena sesungguhnya, nilai amal seseorang sering kali terlihat dari bagaimana ia mengakhirinya.