Fitnah dan Reputasi (QS. Yusuf 25-29)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Tidak semua ujian datang dalam bentuk godaan yang tersembunyi. Ada ujian yang datang dalam bentuk tuduhan terang-terangan.

Setelah Yusuf berlari menjauh dari godaan, Al-Qur’an menggambarkan adegan yang sangat dramatis:

“Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak…” (QS. Yusuf: 25)

Yusuf berlari untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi justru dalam lari itulah ia terseret ke dalam ujian baru. Bajunya koyak dari belakang, sebuah detail yang kelak menjadi bukti penting.

Saat pintu terbuka, mereka berhadapan dengan suami perempuan itu. Dan dalam hitungan detik, keadaan berbalik.

Baca Juga  Ponpes Quran Cahaya Panen Cabai, Wabup Debby Apresiasi Upaya BI Babel Kendalikan Inflasi Daerah

“Perempuan itu berkata: ‘Apakah balasan bagi orang yang bermaksud buruk terhadap keluargamu selain dipenjarakan atau disiksa dengan siksaan yang pedih?’” (QS. Yusuf: 25)

Tuduhan itu cepat. Tegas. Tanpa ragu.

Yusuf yang sebelumnya menolak maksiat kini berdiri sebagai tertuduh. Ia tidak hanya harus menjaga diri dari dosa, tetapi juga harus membela martabatnya.

Inilah salah satu luka moral paling menyakitkan: ketika kebenaran diputarbalikkan.

Yusuf menjawab dengan tenang:

“Dialah yang menggoda diriku…” (QS. Yusuf: 26)

Ia tidak berteriak. Tidak membalas dengan kemarahan. Ia menyampaikan fakta.

Dalam keadaan seperti ini, seseorang bisa saja kehilangan kendali. Rasa tidak adil sering memicu ledakan emosi. Tetapi Yusuf tetap menjaga ketenangan. Karakternya tidak runtuh hanya karena dituduh.

Baca Juga  Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 4): Rumah yang Menumbuhkan Rasa

Lalu Allah menghadirkan satu bentuk keadilan yang halus:

“Dan seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberikan kesaksian…” (QS. Yusuf: 26)

Saksi itu mengajukan logika sederhana.
Jika baju Yusuf koyak di depan, ia bersalah.
Jika koyak di belakang, ia tidak bersalah.

Dan hasilnya jelas

“Maka ketika suaminya melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang, dia berkata: ‘Sesungguhnya ini adalah tipu daya kamu. Sungguh, tipu daya kamu besar.’” (QS. Yusuf: 28)