Godaan dan Keteguhan Iman (QS. Yusuf: 23-25)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Tidak ada iman yang kokoh lahir secara mendadak. Ia tumbuh perlahan, ditanam sejak kecil, disiram dengan nasihat, dikuatkan dengan teladan, dan diuji oleh kehidupan.

Adegan ini melanjutkan peristiwa sebelumnya. Yusuf berada di ruang tertutup. Tidak ada saksi. Tidak ada pengawas. Tidak ada tekanan sosial yang menahannya. Justru seluruh keadaan mendukung ia untuk tergelincir.

Al-Qur’an menggambarkannya dengan sangat jelas:

“Dan perempuan yang di rumahnya Yusuf tinggal menggoda dirinya dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata: ‘Marilah ke sini.’” (QS. Yusuf: 23)

Pintu-pintu ditutup. Ini bukan godaan yang samar. Ini situasi yang dirancang.

Baca Juga  Hukum Belum Mandi Wajib Saat Puasa Usai Berhubungan & Haid

Namun respons Yusuf bukan panik, bukan marah, bukan juga sombong. Ia berkata:

“Aku berlindung kepada Allah…” (QS. Yusuf: 23)

Kalimat itu pendek, tetapi memuat seluruh fondasi hidupnya.

Benteng iman tidak terlihat saat keadaan normal. Ia terlihat saat dorongan kuat datang dan manusia sendirian dengan pilihannya. Di titik inilah konsep ihsan menemukan maknanya.

Ihsan bukan hanya kebaikan perilaku. Ia adalah kesadaran terus-menerus bahwa Allah melihat. Bukan sekadar tahu secara teori, tetapi merasakannya dalam keputusan.

Ayat berikutnya menyingkap sisi kemanusiaan Yusuf:

“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya, dan Yusuf pun berkehendak kepadanya sekiranya dia tidak melihat tanda dari Tuhannya…” (QS. Yusuf: 24)

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 11): Terpisah dari Rumah yang Aman

Di sini Al-Qur’an menunjukkan bahwa Yusuf tetap manusia. Ia memiliki naluri. Ia tidak kebal dari dorongan. Justru karena itulah penolakannya menjadi bernilai.

Sebagian penafsiran menjelaskan bahwa “tanda dari Tuhannya” adalah penguatan batin berupa kesadaran mendalam akan pengawasan Allah. Ada juga yang menekankan bahwa itu adalah cahaya ilmu dan hikmah yang sudah lebih dahulu ditanamkan dalam dirinya.