Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 11): Terpisah dari Rumah yang Aman
Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 11): Terpisah dari Rumah yang Aman (QS. Yusuf: 10–11)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali
Ada perpisahan yang direncanakan. Ada yang terpaksa. Dan ada yang tampak biasa saja, tetapi ternyata menjadi batas antara dua fase kehidupan.
Al-Qur’an menggambarkan awal peristiwa ini dengan kalimat yang singkat namun penuh ketegangan.
“Salah seorang di antara mereka berkata: ‘Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur, supaya dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.’” (QS. Yusuf: 10)
Dan rencana itu bergerak maju. Saudara-saudara Yusuf mulai menyusun alasan untuk membawanya pergi dari rumah.
“Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal kami benar-benar menginginkan kebaikan baginya?’” (QS. Yusuf: 11)
Yusuf yang polos tidak meninggalkan rumah dalam keadaan marah. Ia tidak pergi karena dihukum. Ia tidak lari karena konflik. Ia keluar dari rumah dalam keadaan percaya. Percaya kepada saudara-saudaranya. Percaya bahwa ayahnya telah mengizinkan. Percaya bahwa sore nanti ia akan kembali. Ia hanya pergi untuk bermain saja.
Dan justru karena itu, perpisahan ini terasa lebih dalam.
