Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 11): Terpisah dari Rumah yang Aman
Rumah bagi seorang anak bukan hanya tempat tidur dan makanan. Rumah adalah ruang aman. Di sanalah seorang anak merasa tidak perlu waspada. Di sana ia bisa lelah tanpa takut dihakimi. Ia bisa salah tanpa takut ditinggalkan. Figur ayah adalah simbol perlindungan yang tidak perlu dibuktikan setiap hari.
Ketika Yusuf melangkah pergi, yang terputus bukan hanya jarak fisik. Yang mulai retak adalah sistem perlindungan batin yang selama ini menaunginya.
Kebanyakan ahli tafsir menggambarkan momen ini sebagai awal pendidikan Ilahi yang lebih luas. Dari pendidikan keluarga menuju pendidikan kehidupan. Namun pendidikan itu dimulai dengan rasa kehilangan yang sangat manusiawi.
Seorang ayah mungkin merasa telah memperhitungkan segalanya. Seorang anak mungkin terlihat berani dan tenang. Tetapi dalam psikologi perkembangan, figur aman bukan sekadar kehadiran fisik. Ia adalah pusat regulasi emosi anak. Ketika pusat itu mendadak menjauh, batin anak memasuki fase rawan.
Al-Qur’an tidak menggambarkan Yusuf menangis saat meninggalkan rumah. Tidak ada adegan dramatis. Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah, kita diajak memahami bahwa trauma sering tidak berbunyi keras. Ia bekerja diam-diam.
Anak yang kehilangan figur aman secara mendadak biasanya mengalami tiga hal. Kebingungan, keterkejutan, dan perasaan tidak siap. Ketiganya mungkin belum disadari Yusuf sepenuhnya pada detik pertama. Tetapi benihnya telah ditanam.
Namun ada satu hal yang menjadi pembeda. Yusuf bukan anak yang tumbuh dalam rumah yang dingin. Ia tumbuh dalam kasih sayang yang jelas terasa. Ia pernah merasakan ayah yang memeluknya. Ia pernah didengar ketika berbicara. Ia pernah diperingatkan dengan lembut ketika menceritakan mimpinya.
Memori emosional itu tidak hilang ketika jarak tercipta. Ia tinggal sebagai jangkar di dalam jiwa.
