Menjaga Diri saat Tidak Diawasi (QS. Yusuf: 22-24)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali

Ada ujian yang datang dalam bentuk kehilangan. Ada yang datang dalam bentuk kesulitan. Dan ada yang datang dalam bentuk kesempatan.

Layar kisah pun berganti.

Yusuf telah melewati fase sumur dan keterasingan. Ia tumbuh di lingkungan baru, jauh dari ayahnya, jauh dari rumahnya. Tidak ada figur yang mengenal masa kecilnya. Tidak ada yang tahu luka-luka awalnya. Ia hidup dalam sistem yang tidak dibangun oleh nilai-nilai keluarganya.

Lalu Al-Qur’an menggambarkan satu fase penting dalam hidupnya:

“Dan tatkala dia telah dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 22)

Baca Juga  Lebih Dekat dengan Al-Qur’an

Kedewasaan Yusuf bukan sekadar usia. Ia adalah hasil perjalanan panjang. Hikmah dan ilmu tidak turun tanpa proses. Ia adalah buah dari kesabaran, dari luka yang tidak berubah menjadi dendam, dari kesepian yang tidak berubah menjadi kekosongan.

Namun ujian berikutnya datang dalam bentuk yang lebih halus.

“Dan perempuan yang di rumahnya Yusuf tinggal menggoda dirinya…” (QS. Yusuf: 23)

Godaan ini berbeda dari sumur. Jika sumur adalah ujian ketahanan, maka godaan ini adalah ujian integritas. Jika di sumur Yusuf tidak punya pilihan, maka di sini ia punya pilihan.

Ia bisa saja tergelincir. Tidak ada ayah yang melihat. Tidak ada keluarga yang mengingatkan. Tidak ada masyarakat yang mengenalnya sebagai anak nabi. Ia berada di ruang tertutup, jauh dari pengawasan.

Baca Juga  Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 2)

Dan justru di situlah pendidikan moral sejati diuji.

Ayat itu melanjutkan:

“Dia berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah. Sungguh, tuanku telah berbuat baik kepadaku. Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung.’” (QS. Yusuf: 23)

Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam. Yusuf tidak menyebut ayahnya. Tidak menyebut masa lalunya. Ia menyebut Allah.

Ia menyandarkan penolakannya pada dua hal: kesadaran akan Allah dan kesadaran akan amanah. Ia tidak hanya takut dosa. Ia juga menjaga kepercayaan.