Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 17): Memilih Penjara demi Menjaga Islam
Memilih Penjara demi Menjaga Islam (QS. Yusuf: 32–33)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali
Setelah kebenaran terungkap, persoalan ternyata belum selesai. Fitnah tidak berhenti hanya karena bukti telah jelas. Justru tekanan semakin besar.
Perempuan itu tidak lagi menyembunyikan perasaannya. Ia mengakuinya di hadapan para wanita
“Dan sungguh aku telah menggoda dia, tetapi dia menolak…” (QS. Yusuf: 32)
Pengakuan ini seharusnya mengakhiri persoalan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia menambahkan ancaman
“Dan jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan, niscaya dia akan dipenjarakan dan termasuk orang yang hina.” (QS. Yusuf: 32)
Di titik ini, ujian Yusuf berubah level. Ia tidak lagi sekadar menolak godaan pribadi. Ia kini dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat. Antara menuruti tekanan dan menyelamatkan diri secara sosial atau menolak dan menerima konsekuensi dipenjara.
Inilah fase ketika prinsip diuji oleh kekuasaan.
Yusuf tidak membalas dengan protes panjang. Ia tidak mencoba membangun aliansi politik. Ia tidak merendahkan diri demi keselamatan sementara.
Ia justru mengangkat doa
“Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka…” (QS. Yusuf: 33)
Kalimat ini sangat dalam. Yusuf tidak berkata bahwa penjara itu ringan. Ia tidak mengatakan bahwa ia menginginkannya. Ia berkata bahwa penjara lebih ia pilih daripada kehilangan integritas.
Ini pilihan sadar.
Dan di sinilah terlihat bahwa benteng iman yang dibangun sejak kecil benar-benar matang. Iman tidak hanya menahan dorongan pribadi. Ia juga berani menanggung risiko sosial.
Yusuf memahami satu hal penting. Kehilangan kebebasan fisik lebih ringan daripada kehilangan kebersihan jiwa.
