Sebagian penjelasan para ulama menekankan bahwa doa ini menunjukkan puncak tawakal. Yusuf tahu dirinya manusia. Ia tidak merasa kebal. Karena itu ia memohon perlindungan agar tidak condong kepada tipu daya mereka.

Ayat itu melanjutkan

“Jika Engkau tidak hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan condong kepada mereka dan termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)

Di sini tampak kerendahan hati seorang nabi. Ia tidak berkata, “Aku pasti kuat.” Ia berkata, “Jika Engkau tidak menjaga aku, aku bisa tergelincir.”

Kesadaran ini sangat penting dalam pendidikan. Anak yang merasa terlalu percaya diri justru rawan jatuh. Anak yang sadar akan kelemahannya akan lebih mudah mencari perlindungan kepada Allah.

Baca Juga  Menyibak Kegelapan, Cahaya Itu Berpendar dan Mulai Bersinar

Lalu keputusan itu terjadi

“Maka Tuhannya memperkenankan doanya dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka…” (QS. Yusuf: 34)

Namun penghindaran itu tidak berarti ia langsung bebas. Jalan takdir membawanya ke penjara.

Secara lahiriah, ini tampak seperti kekalahan. Seorang pemuda baik-baik masuk penjara karena intrik sosial. Tetapi dalam perspektif iman, ini adalah kemenangan batin.

Yusuf mengajarkan bahwa harga diri tidak selalu bisa diselamatkan dengan kenyamanan. Kadang ia harus dijaga dengan pengorbanan.

Dalam konteks parenting, hal ini sangatlah relevan. Kita ingin anak-anak kita sukses. Kita ingin mereka dihormati. Kita ingin mereka diterima oleh lingkungan. Tetapi apakah kita juga menyiapkan mereka untuk berani berbeda?

Baca Juga  Ponpes Quran Cahaya Panen Cabai, Wabup Debby Apresiasi Upaya BI Babel Kendalikan Inflasi Daerah

Akan ada fase ketika anak harus memilih antara popularitas atau prinsip. Bisa juga diuji antara kenyamanan atau kebenaran. Bisa jadi pula diuji dengan tekanan lingkungan atau suara hati

Tidak semua pilihan benar terasa enak. Tidak semua jalan lurus tampak menguntungkan di awal.

Yusuf mengajarkan keberanian moral. Memilih jalan sulit demi menjaga hubungan dengan Allah.

Ia masuk penjara sebagai orang yang dipaksa. Tetapi ia masuk dengan jiwa yang merdeka.

Dan sering kali, kemerdekaan sejati bukan tentang bebas secara fisik. Ia tentang bebas dari tekanan untuk mengkhianati nilai diri.