Menyibak Kegelapan (Bagian 2): Tauhid sebagai Pondasi
Oleh: Nurrahmawati Ningrum, S.P., Gr. — Kepala SDIT Alam CAHAYA, Toboali
Jika pada bagian pertama (https://timelines.id/2026/02/19/menyibak-kegelapan-cahaya-itu-berpendar-dan-mulai-bersinar/) kita berbicara tentang penyucian jiwa, maka pada bagian kedua ini kita menegaskan fondasinya yaitu tauhid yang kokoh. Sebab, cahaya tidak akan pernah benar-benar bersinar jika akarnya rapuh. Tauhid adalah akar itu. Sebuah ikatan lurus antara hamba dan Rabb-nya, tanpa perantara, tanpa ketergantungan pada selain-Nya.
Dalam Al-Qur’an, melalui Surat Al-Jin, Allah menyingkap satu hakikat penting: bahkan bangsa jin pun mengakui keagungan wahyu dan kebenaran tauhid. “Dan sesungguhnya ketika kami mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya.” (QS. Al-Jin: 13). Ayat ini menegaskan bahwa petunjuk itu jelas dan terang; ia tidak memerlukan sentuhan mistis untuk menguatkannya.
Surat Al-Jin juga mengingatkan bahwa makhluk gaib tidak memiliki kuasa mutlak. Mereka tidak mengetahui perkara gaib kecuali yang Allah kehendaki. Pesan ini sejatinya membebaskan manusia dari ketergantungan pada praktik-praktik yang menyimpang: ramalan, jimat, ritual tertentu, atau keyakinan berlebihan terhadap kekuatan selain Allah. Ketika hati goyah, tauhidlah yang meneguhkan; bukan simbol, bukan benda, dan bukan bisikan ketakutan.
Sayangnya di tengah masyarakat modern, sisa-sisa kepercayaan pada praktek berbau mistis dan ketergantungan pada hal-hal ghaib yang menyimpang masih kerap ditemukan. Ketika resah hati, sebagian orang lebih memilih mencari jawaban lewat ramalan, jimat, atau ritual-ritual yang menjauhkan dari kemurnian tauhid. Padahal Allah telah menegaskan dalam surat yang sama bahwa hanya kepada-Nya tempat bergantung. Jin pun tidak mengetahui yang ghaib kecuali yang Allah kehendaki.
