Oleh: Nurrahmawati Ningrum, S.P., Gr. — Kepala SDIT Alam CAHAYA, Toboali

“Menyibak kegelapan, biarkan cahaya itu berpendar dan mulai bersinar.” Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata puitis, melainkan panggilan jiwa. Jiwa manusia bagaikan matahari, ia diciptakan untuk memberi cahaya, menghadirkan kehangatan, dan menebar kemanfaatan. Namun sebagaimana matahari tertutup awan, jiwa pun kadang redup oleh kelalaian dan kesalahan. Allah SWT telah menjelaskan hakikat itu dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surat Asy-Syams ayat 8-10

فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا

—maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaan.

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا

وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

—sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.

Baca Juga  Haid Tidak Lancar, Bagaimana Jadwal Shalat dan Puasanya?

Maka, sejatinya setiap manusia berada di persimpangan dua jalan: kebaikan dan kesesatan. Tergelincir adalah mungkin, tetapi kembali adalah pilihan.