Cinta Itu, Mengejar Sampai Akhir
Malam mulia, diturunkannya Al-Qur’an, malam yang dipenuhi berkah dan kesejahteraan, malam yang malaikat berbondong bondong turun ke bumi, malamnya muslim akan diampuni. Akankah kembali menyia-nyiakannya?
Rasulullah bersabda, sesungguhnya bulan Ramadan ini telah menghampiri kalian. Dan di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Barangsiapa yang terhalang dari menjumpainya, maka sungguh dia telah terhalang dari seluruh kebaikan. Dan tidaklah terhalang dari menjumpainya kecuali orang-orang yang merugi.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah telah disampaikan,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ وصَوْمٍ وَنَوْمٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Artinya, “Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, ‘Pada 20 hari yang pertama (di bulan Ramadhan), Nabiﷺ biasa mengkombinasikan antara shalat, puasa dan tidurnya. Namun jika telah masuk 10 hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya (menjauhi istri-istrinya).” (HR Ahmad).
Jika melihat kebiasaan Nabi ﷺ pada malam 10 terakhir Ramadhan, 10 malam terakhir benar-benar tidak boleh dilewatkan. Kemungkinan Lailatul Qadar ada di dalamnya. Namun namun hanya Allah yang tahu pastinya, dan ia menempatkan sesuai kehendak Nya. Maka bijaknya, hidupkanlah malam seluruhnya.
Semoga Kita dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar dan Allah menerima amalan amalan kita. Aamiin.
Muhammad Fadhli, SE Fasilitator SDIT Alam Cahaya Toboali, Bangka Selatan
