Pertama, untuk menumbahkan nilai karakter sabar dan Ikhlas. Bagi peserta didik puasa pada bulan Ramadan dapat meningkatkan nilai karakter sabar dalam menghadapi persoalan belajar.

Peserta didik diharuskan belajar selama bulan puasa meskipun dilakukan setengah hari. Kegiatan belajar dengan kelelahan jasmani dan Rohani harus mereka jalani dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Kelak mereka akan memetic buah manis puasa Ramadan itu.

Kedua, untuk mengembangkan budaya disiplin peserta didik. Puasa membentuk budaya disiplin terhadap waktu dan aturan yang ada.

Kemudian memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Berpuasa di bulan Ramadan memiliki aturan dan tata tertib tertentu.

Ketiga, untuk menanamkan nilai patuh pada aturan. Berpuasa dalam menahan lapar dan haus serta membatalkan puasa, mulai dari imsakiyah (menahan) sampai saat berbuka puasa.

Baca Juga  Perry Warjiyo Jalani Fit and Proper Test Kandidat Gubernur Bank Indonesia

Ada syarat dan ada rukun berpuasa yang perlu di penuhi atau dipatuhi. Jika tidak dipatuhi syarat dan rukun berpuasa maka batalah puasa atau berkurang nilai ibadah seseorang.

Keempat, untuk menumbuhkan nilai sosial dan empati. Berpuasa dalam dimensi social mengandung nilai empati terhadap sesama manusia. Merasakan betapa tidak enaknya menahan lapar dan haus di siang hari sebagaimana yang sering dirasakan mereka yang hidup serba kekurangan.

Kelima, untuk mendidik jasmani dan ohani. Selain menerapkan nilai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, berpuasa di bulan Ramadan juga dapat menerapkan Pelajaran Pendidikan Jasmani dan Rohani. Olahraga menjadi sarana menuju kesehatan jasmani dan rohani.

Berpuasa di bulan Ramadan juga menjadi wahana untuk sehat jasmani dan rohani peserta didik. Sebagaiman pepatah “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”.

Baca Juga  Ramadan dan Ironi Prostitusi: Bukti Rusaknya Sistem Kehidupan

Selama bulan Ramadan, umat muslim dididik untuk melakukan berbagai kebaikan. Melalui latihan yang berulang-ulang, diharapkan menjadi kebiasaan (habit) yang terbawa setelah selesainya bulan Ramadan.

Akan terlihatlah keberhasilan tujuan pendididikan yang dilalui oleh seorang muslim selama mengikuti tarbiah di bulan Ramadan. Fenomena yang terjadi memang banyak yang disayangkan, banyak yang dipertemukan dengan bulan Ramadan tahun ini namun tidak optimal menjalani proses pendidikan di bulan Ramadan.

Hal ini juga sebagai pengingat bagi penulis dan tentu untuk kita semua, sudah sejauh mana kualitas ibadah kita hingga saat ini. Bulan Ramadan yang tinggal beberapa hari lagi, mari kita optimalkan kualitas ibadah kita. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, di akhir-akhir bulan Ramadan beliau mengencangkan ikat pinggang dalam arti memperbanyak ibadah kepada Allah Swt.

Baca Juga  Jangan Lengah Ini Cara Menurunkan Kuning Bayi dengan Cepat

Di akhir tulisan ini, penulis mengajak kepada kita semua marilah kita bersungguh dalam menapaki sisa bulan Ramadan tahun ini.

Berikan yang terbaik, karena belum tentu kita dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun depan. Bulan Ramadan mendidik, di mana tujuan pendidikan yang tertuang dalam undang-undang Sisdiknas dapat tercapai melalui kegiatan di bulan Ramadan bahkan lebih daripada itu.

Namun, kita tetap terus berharap dan berdoa semoga kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan tahun depan. Amiin ya Robbal’alamin.

Abil Mulya Jihad Syaifullah, S.Pd, Fasilitator SDIT Alam Cahaya, Toboali, Bangka Selatan