Cinta dan Takut setelah Ramadan
Oleh: Redha Wahyuning Septiani, S.Pd.
Ramadan bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Ramadan juga bulan yang mulia dengan berbagai hikmah yang istimewa. Pastinya kita sudah berusaha melaksanakan berbagai ibadah seperti puasa, salat, membaca Al-Qur’an, sedekah dan perbuatan baik lainnya.
Tapi sudahkah kita ingat kembali, apa niat kita melaksanakan ibadah tersebut? Tentu karena kita ingin membersihkan atau mensucikan hati dan pikiran kita agar lebih bertakwa kepada Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqoroh ayat 183 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Takwa itu ialah buah dari keimanan kita kepada Allah SWT. Makna takwa pada ayat ini yaitu bentuk cintanya hamba kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan takutnya kepada Allah dengan menjauhi larangan-Nya. Bagaimana kondisi hati dan niat kita saat ini? Hanya Allah dan kita sendiri yang tahu.
Dalam keseharian kita, setiap perbuatan sehari-hari menjadi nilai ibadah jika diniatkan karena iman kepada Allah Ta’ala. Namun bisa menjadi kesia-sian atau kebaikan di dunia saja jika tanpa niat iman karena Allah Ta’ala. Sebagaimana Rosulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas mengingatkan kita bersama agar memperbaiki niat kita dalam beribadah khususnya dibulan Ramadhan ini. Agar takwa kita dapat bertumbuh dan bertambah maka kita mesti mengimani apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT.
