Agus Tarmidzi, Diplomat Ulung dari Bangka Belitung
Karenanya ia menyarankan agar Agus belajar banyak ilmu pengetahuan dan bahasa asing. Di benak Agus muda kemudian muncul tekat untuk menjadi diplomat. Walaupun menurut gurunya itu susah. Tapi semuanya pasti bisa dipelajari pikirnya.
Ia bersekolah SMA di Jalan Batu Jakarta sebelum masuk ke Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN). Setelah itu menyelesaikan kuliah di Sospol Universitas Gadjah Mada di tahun 1959.
Pos pertama ketika bertugas di luar negeri adalah di Pyongyang-Korea Utara, Beograd-Yugoslavia, Denhaag-Belanda, dan London-Inggris. Setelah itu karier profesionalnya terus meningkat.
Semua penugasan nampaknya memberikan kesan berarti bagi lelaki yang hampir saja menjadi Bupati Bangka ini. Pada tahun 80-an ia sempat diminta kembali ke Pulau Bangka untuk menjadi Bupati Bangka yang waktu itu masih menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan.
Namun dua orang bersaudara yang juga menjadi koleganya menyarankan agar Agus sebaiknya menjalani karier sebagai diplomat saja. Kedua temannya itu adalah kakak adik Ir. Sutijono Yakupalis dan Dr. Samsi Yakupalis. Ir. Sutijono kemudian menjadi seorang pejabat tinggi di PT Timah, yang kemudian mendirikan Stadion Orom (Olahraga Obat Masyarakat) di Sungailiat.
Ia pula berperan besar membuat prestasi mengantarkan kesebelasan P.S. Bangka masuk 8 besar nasional. Sedangkan kakaknya Dr. Samsi yang namanya diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Jiwa di Sungailiat, pernah menjabat sebagai Direktur RSPAD Gatot Subroto di Jakarta.
Samurai Terakhir
Peran Agus Tarmidzi dalam berbagai peristiwa di hari-hari terakhir keberadaan Indonesia di Timor Timur seakan-akan mengingatkan kita judul pada sebuah film terkenal yang dibintangi Tom Cruise di tahun 2003 yaitu “The Last Samurai”.
Begitulah seperti yang disampaikan oleh seorang teman di FB mendiang Agus Tarmidzi bernama Fahmi Mada, yang menuliskan di wall FB: “Pak Agus Tarmidzi adalah ‘Samurai terakhir’ Indonesia pasca referendum. Setidaknya begitulah kisah yang ditulis Rien Kuntari, wartawati Kompas dalam bukunya yang fenomenal itu…” tulisnya.
Setelah membaca sekelumit perjalanan hidup almarhum, maka tak heran bila selama bersama-sama beliau baik di Bangka Belitung, Jakarta, atau di luar negeri sangat terasa bobot dan kemampuan Pak Agus.
Itu pula yang menyebabkan banyak koleganya di Kementerian Luar Negeri yang terkesan sangat menghormati dan membantunya selama ini. Ia telah menjadi seorang teman sekaligus guru yang benar-benar bermutu. Sayangnya waktu yang memang selalu menjadi halangan bagi kita untuk menikmati kebersamaan yang lebih lama.
Kini diplomat ulung dari Bangka Belitung itu sudah berpulang. Ia telah meninggalkan jejak sebagai putra negeri yang membanggakan dengan berbagai prestasi dan penugasannya di berbagai negara demi kepentingan bangsa.
Ia dilahirkan di Mentok, 13 Agustus 1932, dan meninggal di RS Pelni Jakarta, 21 Maret 2024. Semoga kita dapat menjadikan pengalaman hidup almarhum sebagai inspirasi untuk berprestasi dimanapun kita berada.
Semoga Almarhum Agus Tarmidzi bin Raden Oesman mendapatkan tempat yang terbaik. Allahummafighlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Bahan-bahan tulisan ini juga dikutip dari buku: Orang Babel Bicara Babel: Figur dan Pemikiran Tentang Masa Depan Bangka Belitung; Zakaria Zainuddin (2006); Sungailiat: Batu Tulis., 2006.
Yan Megawandi, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan & Pemerhati Budaya Babel
